Sumanto Tekankan Penguatan Sektor Pertanian

WhatsApp Image 2022 09 01 at 08.50.40

ACARA DISKUSI: Ketua Komisi B Sumanto mengikuti acara FGD di Kantor Bappeda Jateng.(foto: azhar alhadi)

SEMARANG – Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto menghadiri kegiatan Foccus Group Discussion (FGD) “Stabilitas Harga Komoditas Pangan Dan Daya Beli Petani” di Ruang Rapat Bappeda Jateng, Rabu (31/8/2022). Acara itu mengangkat tema “Stabilitas Harga Komoditas Pangan dan Daya Beli Petani”.

Sumanto menyoroti problematika petani di Jawa Tengah sekarang ini. Ada tiga permasalahan yang sedang dihadapi mereka. Pertama mengenai kepemilikan lahan yang rendah, selanjutnya penghasilan di bawah UMR, dan ketiga ketergantungan pada pupuk kimia. Permasalahan tersebut menjadi pengembangan sektor usaha pertanian tidak sejalan dengan kesejahteraan para petani.

Salah satu upaya dapat dilakukan pemerintah dengan fokus menekan beban biaya produksi yang dikeluarkan petani. Namun di sisi lain, upaya yang diambil harus dapat menjamin kesejahteraan petani dan daya beli masyarakat di saat yang bersamaan. Diperlukan suatu konsep untuk tetap menjaga harga komoditas pangan pada level yang tidak merugikan petani namun di sisi lain juga menjaga agar jangkauan masyarakat menengah ke bawah terhadap komoditas pangan tidak terganggu.

Pada kesempatan itu, Sumanto menitikberatkan pada permasalahan di sektor pangan. Adapun di antarannya bibit benih yang digunakan oleh petani, peternak dan pembudi daya ikan berkualitas rendah, sehingga serapan pasar yang tidak stabil menyebabkan hasil produk tidak terserap dengan baik.

“Selain itu, minimnya informasi pasar, data produksi dan konsumi menyebabkan ketidakstabilan pangan, masyarakat petani yang paling dirugikan, terlebih pemerintah desa/kelurahan belum dimaksimalkan perannya, padahal mereka bisa menjadi instrumen yang kuat dalam membangun ketahanan pangan,” ujarnya.

Dipenghujung acara, Sumanto merekomendasikan dan menganjurkan beberapa hal yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani ke depannya.  Pemerintah merevitalisasi balai pembenihan dan atau pembibitan, sehingga bibit dan benih yang digunakan oleh petani, peternak, dan pembudi daya ikan di Jawa Tengah memiliki kualitas baik.

Pemerintah dalam hal ini bisa ditugaskan ke BUMD untuk menjadi offtaker (penjamin komunitas) hasil produksi petani, nelayan dan peternak, Jawa Tengah perlu memiliki neraca komoditas, sehingga produksi dan konsumsi pangan terukur, membangun lumbung pangan di tingkat desa dengan melibatkan aparatur desa dan karang taruna.(azhar/priyanto)

Info Lainnya

  • DPRD Jateng Dukung Collaborative Government

    SUKOHARJO – DPRD Provinsi Jateng mendukung prinsip pemerintahan kolaboratif (collaborative government) dalam pembangunan daerah. Prinsip itu disampaikan Gubernur saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Jateng periode 2025-2030 di Hotel Grand Mercure, Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (5/9/2026)

  • Komisi E Bahas KB Pascapersalinan di Dinas P3AP2KB Kabupaten Tegal

    TEGAL — Komisi E DPRD Provinsi Jateng berdiskusi dengan Dinas P3AP2KB Kabupaten Tegal, Rabu (2/9/2026), untuk memperoleh data dan informasi terkait penguatan kebijakan serta komitmen pemerintah daerah guna peningkatan Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP). Berdasarkan paparan Pemerintah Kabupaten Tegal, jumlah ibu bersalin hingga Juli 2026 mencapai 9.887 orang, dengan estimasi persalinan sepanjang tahun sebanyak 19.344 orang

  • Rehabilitasi Berkelanjutan untuk Menangani Lahan Kritis

    SURAKARTA – Luas lahan kritis di Provinsi Jateng selama 3 tahun terakhir berkurang sekitar 75 ribu hektare. Capaian itu menjadi modal penting pemerintah daerah untuk terus memperkuat rehabilitasi hutan dan lahan, sekaligus mencegah munculnya kawasan kritis baru yang berpotensi memicu bencana

  • Balai Tahura Karanganyar Butuh Pembenahan

    KARANGANYAR – Komisi D DPRD Provinsi Jateng menaruh perhatian serius terhadap masih terbatasnya sarana dan prasarana di Balai Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunagoro I. Sejumlah fasilitas dinilai perlu segera dibenahi dan dilengkapi agar kawasan hutan seluas 2.549 hektare itu semakin optimal menjalankan fungsi konservasi, edukasi, mitigasi bencana hingga wisata alam