Penting, Optimalisasi Balai Pembibitan Ternak

PANTAU BALAI. Komisi B DPRD Provinsi Jateng memantau pengelolaan & perkembangan Balai Pembibitan Ternak Pagerkukuh Kabupaten Wonosobo, Kamis (18/6/2026). (foto teguh prasetyo)
WONOSOBO — Komisi B DPRD Provinsi Jateng mendesak penguatan peran balai-balai pembibitan ternak sebagai pilar utama untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan memanfaatkan aset lahan yang ada dan keunggulan potensi ternak lokal, sektor peternakan dinilai mampu menjadi motor penggerak baru untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hal itu ditegaskan Sekretaris Komisi B, dokter Sholeha Kurniawati, usai berdiskusi bersama Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Provinsi Jateng di Satuan Kerja Pembibitan Ternak Pagerkukuh Kabupaten Wonosobo, Kamis (18/6/2026). Menurut Sholeha balai pembibitan tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai unit pelaksana teknis administratif, melainkan harus ditransformasikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis hulu (breeding center). Strategi utamanya adalah dengan memaksimalkan seluruh aset daerah dan potensi komoditas lokal yang belum tergarap optimal.
“Kunci pertumbuhan ekonomi sektor peternakan itu ada di hulu yaitu pembibitan. Industri besar bisa gurita karena mereka menguasai breeding. Kita punya asetnya, kita punya balainya. Sekarang saatnya mengoptimalkan aset-aset pemprov tersebut agar produktivitasnya maksimal dan menjadi sumber PAD yang mandiri,” ujar Sholeha Kurniawati, Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng selama lima tahun terakhir, subsektor peternakan membuktikan ketangguhannya sebagai lini paling stabil dengan tren pertumbuhan yang konsisten merangkak naik dari 2,15% pada 2021 hingga menyentuh angka 3,42% pada akhir 2025. Performa itu dinilai jauh lebih aman dan resistan terhadap anomali cuaca, jika dibandingkan subsektor pertanian tanaman pangan yang sempat terkontraksi hingga minus 0,45% pada 2023 akibat El Nino, maupun subsektor kelautan dan perikanan yang melambat di angka 2,80% pada tahun lalu akibat gejolak logistik global.
Anggota Komisi B, Harun Abdul Khafidz, menjelaskan bahwa optimalisasi potensi lokal harus didukung oleh ketepatan fasilitas hulu dan perlindungan terhadap plasma nutfah (kekayaan genetik) asli Jateng. Ia mencontohkan bagaimana Satker Pagerkukuh Wonosobo mengeksplorasi potensi susu segar lokal berkualitas tinggi dan balai lainnya yang mengembangkan varietas ternak khas daerah.
“Potensi ekonomi di tingkat lokal ini sangat riil. Di Pagerkukuh, dari 46 ekor sapi di atas lahan 2 hektar, mampu memproduksi 150 hingga 180 liter susu segar per hari. Kita juga punya Sapi Jabres (Jawa Brebes) di Balai Kaliwungu yang adaptif dan rutin beranak, serta rencana pembibitan Ayam Cemani bekerja sama dengan BRIN. Itu adalah modal ekonomi luar biasa yang melekat pada geografi kita,” urai Harun.

Sementara, Muhaimin, Anggota Komisi B, mengingatkan bahwa perputaran ekonomi lokal ini sering kali tersangkut masalah klasik seperti keterbatasan lahan ekspansi dan alat penyimpanan (freezer) susu yang sering rusak sehingga membatasi jangkauan distribusi. Oleh karena itu, Komisi B berkomitmen mendorong intervensi anggaran dan perluasan kerjasama dengan koperasi-koperasi lokal demi menyerap hasil produksi balai.
“Kita harus jeli melihat potensi lokal. Sebagai lumbung pangan nasional, kontribusi Jateng tidak boleh hanya bertumpu pada padi tapi juga komoditas hulu peternakan yang bernilai ekonomi tinggi,” imbuhnya. (azam/red.)






