Angka Kredit Macet BPR BKK Kudus Perlu Ditekan

20220204141239 IMG

BICARA KINERJA. Dalam diskusi antara Komisi C DPRD Provinsi Jateng dan jajaran manajemen BPR BKK Kudus, Sabtu (5/2/2022), membahas kinerja perbankan. (foto ariel noviandri)

KUDUS – Angka persentase Non-Performing Loans (NPL) atau kredit bermasalah/ kredit macet di PT. BPR BKK Kudus mendapat sorotan dari Komisi C DPRD Provinsi Jateng. Persoalan itu dibahas dalam diskusi antara Komisi C dan jajaran manajemen BPR BKK Kudus, Sabtu (5/2/2022).

Diskusi yang dipimpin Wakil Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jateng Sriyanto Saputro itu membahas mengenai kinerja pengelolaan BPR BKK. Pada kesempatan itu, Sriyanto meminta jajaran manajemen BPR BKK Kudus mampu menekan rasio NPL pada tahun ini.

“Kami harapkan rasio NPL dapat ditekan dan BPR BKK tetap mampu berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Jateng,” kata Politikus Gerindra itu.

Mohammad Budiyono, Anggota Komisi C, juga berharap rasio NPL itu dapat segera diturunkan. Dikatakannya, jajaran manajemen BPR BKK Kudus harus mampu menindaklanjuti kredit-kredit bermasalah pada 2017 lalu.

“Dengan upaya menurunkan kredit macet itu pada tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun ini rasio NPL bisa turun,” ujar legislator dari Fraksi PKB itu.

Data BPR BKK Kudus menyebutkan, rasio NPL mengalami fluktuasi sejak 2017 hingga 2021. Tercatat, pada 2017 rasio NPL sebesar 13,67% kemudian turun menjadi 11,81% pada 2018. 
Rasio NPL naik lagi menjadi 13,84% pada 2019 dan turun menjadi 13,12% pada 2020. Rasionya kembali naik pada 2021 sebesar 14,68% pada 2021.

Di awal sambutannya, Dirut PT BPR BKK Kudus (Perseroda) Noor Mastiko mengakui rasio NPL naik turun sejak 2017. Menurut dia kondisi itu terjadi karena banyaknya usaha masyarakat yang terhenti, terlebih saat pandemi.

“Prediksi hingga Juni 2022, angka NPL kembali naik. Karena, masih ada nasabah yang sejak 2017 masih berjalan kreditnya,” kata Noor. (ariel/priyanto)

Info Lainnya

  • Bahas Raperda Perlindungan Pekerja Informal di Grobogan

    GROBOGAN – Besarnya jumlah pekerja informal yang belum sepenuhnya tersentuh perlindungan jaminan sosial dan regulasi yang komprehensif mendorong Komisi E DPRD Provinsi Jateng mengunjungi Kabupaten Grobogan, baru-baru ini. Kunjungan itu sendiri dilakukan untuk menghimpun data, masukan, dan praktik baik daerah sebagai bahan penyusunan Raperda tentang Perlindungan Tenaga Kerja Informal.

  • Laporan Bulanan Media Mainstream DPRD Jawa Tengah

    Monitoring komprehensif pemberitaan dari media online dan media cetak, mencakup analisis, sentimen publik, dan perkembangan isu terkini terkait DPRD Jawa Tengah, periode data 1-28 Juni 2026. Ringkasan Eksekutif – DPRD Jawa Tengah Pada periode 1–28 Juni 2026, pemberitaan mengenai DPRD…

  • Laporan Mingguan Media Sosial DPRD Jawa Tengah

    Laporan ini menyajikan pemantauan komprehensif terkait aktivitas, pemberitaan, dan percakapan di media sosial yang melibatkan DPRD Jawa Tengah serta lembaga legislatif dan eksekutif terkait di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. PERIODE DATA 29 June 2026 – 5 July 2026 Ruang…

  • Laporan Mingguan Media Mainstream DPRD Jawa Tengah

    Monitoring komprehensif pemberitaan dari media online dan media cetak — mencakup analisis, sentimen publik, dan perkembangan isu terkini terkait DPRD Jawa Tengah. PERIODE DATA 29 Juni 2026 – 5 Juli 2026 Ruang Lingkup dan Tujuan Pemantauan Ruang Lingkup Pemantauan Laporan…

  • Komisi D Dorong Perluasan PLTS untuk Ponpes

    SOAL PLTS. Komisi D DPRD Provinsi Jateng berdiskusi soal pemanfaatan PLTS di Ponpes Alqur’an Roudlotul Huffadh Almalikiyah, Kelurahan Banyuurip Kecamatan Pekalongan Selatan, Senin (13/7/2026). (foto dwi nugrahini) KAJEN – Komisi D DPRD Provinsi Jateng mendorong perluasan program Pembangkit Listrik Tenaga…

  • Potensial, Industri Garam di Pati

    PATI – Komisi C DPRD Provinsi Jateng memantau pengelolaan Pabrik Garam Industri milik BUMD, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), di Desa Raci Kecamatan Batangan Kabupaten Pati, Senin (13/7/2026). Dalam kegiatan itu, Komisi C menyoroti capaian kinerja keuangan PT SPJT yang menunjukkan peningkatan pendapatan menjadi sekitar Rp 48,1 miliar pada 2025.