Energi Baru Terbarukan, Didorong Pengembangan CNG Ganti Elpiji

Dedy Endriyatno. (foto choirul amin)
YOGYAKARTA – Komisi C DPRD Provinsi Jateng menegaskan pentingnya penguatan sektor energi sebagai pilar strategis pembangunan daerah saat melakukan kunjungan kerja ke PT Perwita Karya, DI. Yogyakarta, Selasa (28/4/2026). Kegiatan itu untuk menggali masukan terkait pengelolaan sektor migas, energi baru terbarukan (EBT), mineral, dan jasa penunjang.
Wakil Ketua Komisi C, Dedi Endriyatno, dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa sektor energi dan sumber daya mineral harus dikelola secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Tujuannya agar mampu memberikan kontribusi optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Penguatan sektor energi tidak hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya tapi juga bagaimana menciptakan sistem pengelolaan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam forum tersebut.
Dalam dialog itu, turut hadir PT Jateng Petro Energi (JPEN) sebagai BUMD milik Pemprov Jateng yang bergerak di sektor energi. Direktur PT JPEN Dwi Budi Sulistiyana memaparkan bahwa pihaknya saat ini tengah fokus mengembangkan dan memasarkan compressed natural gas (CNG) atau gas alam terkompresi sebagai alternatif energi yang lebih mandiri dan efisien.
Ia menjelaskan pengembangan CNG menjadi bagian dari strategi jangka panjang mendukung ketahanan energi nasional. Juga, mengurangi ketergantungan terhadap elpiji impor.
“Selama ini elpiji masih didominasi bahan baku impor hingga sekitar 85 persen, sementara CNG sepenuhnya bersumber dari reservoir gas alam di Jateng. Itu menjadi peluang besar untuk mendorong swasembada energi,” jelas Dwi.
Pada 2025, pihaknya telah menyalurkan CNG untuk mendukung 18 dapur dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, distribusi juga telah menjangkau sektor komersial seperti hotel, restoran, kafe, dan katering dengan total volume mencapai 7.000 meter kubik di berbagai wilayah Jateng.
Ke depan, PT JPEN merencanakan peningkatan pasokan CNG hingga 22.000 meter kubik. Dari jumlah tersebut, sekitar 22 ton gas CNG diproyeksikan mampu menggantikan penggunaan elpiji dalam skala tertentu.
Pengembangan itu dinilai sebagai langkah konkret dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya lokal. Selain lebih stabil dari sisi pasokan domestik, penggunaan CNG juga dinilai lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil cair.

Anggota Komisi C Asrar, dalam sesi dialog, menekankan penguatan BUMD seperti PT JPEN perlu terus didorong agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan PAD. “BUMD harus mampu menjadi ujung tombak dalam pengelolaan sumber daya daerah, dengan tetap mengedepankan prinsip profesionalitas dan pelayanan publik,” tegas Asrar.
Sementara, PT Perwita Karya dinilai memiliki kapabilitas dan pengalaman yang relevan dalam pengelolaan sektor energi, migas, dan jasa penunjang. Sinergi antara DPRD, OPD, dan BUMD diharapkan dapat memperkuat strategi pengembangan energi daerah, termasuk dalam percepatan pemanfaatan CNG sebagai energi alternatif masa depan.(boy/red.)







