DIALOG 4 PILAR: Semaikan Toleransi, Tangkal Radikalisme

WhatsApp Image 2022 03 12 at 14.30.24

NARASUMBER : Anggota Komisi A M Yunus menjadi narasumber dalam Dialog 4 Pilar Kebangsaan bersama Kepala Badan Kesbangpol M Haerudin dan Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi di Surakarta.(foto: dewi sekarsari)

SURAKARTA – Benih-benih radikalisme jangan dibiarkan tumbuh berkembang. Generasi milenial atau GenZ harus diselamatkan. Menyemaikan toleransi dengan menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan cara ampuh menangkal paham radikal.

Demikian sari dari “Dialog Empat Pilar : Menangkal Radikalisme Tingkatkan Nasionalisme”, Sabtu (12/3/2022) di Surakarta. Ketiga narasumber anggota Komisi A Muhammad Yunus, Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik (Kesbangpol) Jateng M Haerudin, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr Masrukhi, sepakat radikalisme yang bersifat intoleransi, eksklusivitas, fanatisme dari kepentingan pribadi maupun golongan untuk tidak berkembang di Indonesia.

Yunus menyatakan, saat ini yang harus dilakukan adalah menghadirkan semangat toleransi, saling menghargai, menghormati pendapat. Kesemua itu ada dalam Pancasila. Karena itulah pentingnya mengamalkan serta mengenalkan kepada generasi milenial.

Namun demikian, dia secara pribadi tidak sependapat dengan pengertian radikalisme yang disematkan pada salah satu agama, kelompok atau perorangan. Yunus menegaskan radikalisme tidak ditujukan pada satu agama tertentu.

“Ini (radikalisme) yang harus diluruskan. Bukan karena beda pendapat, bersikap kritis, lantas dicap radikal. Saya sepakat supaya tidak ada pemaksaan kehendak memunculkan intoleransi, eksklusivitas, fanatisme,” ungkap dia.

Haerudin mengatakan, pentingnya toleransi hadir di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Badan Kesbangpol membuat program-program yang bertujuan untuk menghadirkan Pancasila dalam sendi kehidupan. Salah satunya penguatan toleransi dengan bekerja sama dengan forum komunikasi umat beragama (FKUB), Kemenang bentuk desa desa kerukunan, desa damai.

Sementara dari sisi perguruan tinggi, Prof Masrukhi mengakui dinamisasi kehidupan di kampus begitu terasa. Dengan adanya temuan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang menyebut perguruan tinggi bisa rentan menjadi tempat penyemaian radikalisme tidaklah salah.

“Mahasiswa banyak bersinggungan dengan dunia luar termasuk melalui media sosial. Interaksi itu menjadi pintu masuknya paham-paham salah satunya radikalisme. Pentingnya penguatan Pancasila dalam perkuliahan serta organisasi di kampung perlu dilakukan. Wawasan kebangsaan harus dikuatkan,” katanya.(cahyo/priyanto)

Berita Terkait

  • Bagus, Implementasi Perda PUG di Jombang

    JOMBANG – Implementasi Perda Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kabupaten Jombang kini sudah memiliki banyak inovasi pelayanan. Diantaranya Bulaga, Sagara Samawa, Gerakan Bahagia Bersama Tetangga, Sipeno Mades, Forum Puspa, Sekolah Keluarga, dan masih banyak lagi.

  • Komisi B Temui Pedagang Pasar Weleri

    GEDUNG BERLIAN – Komisi B DPRD Prov. Jateng menerima perwakilan pedagang yang tergabung dalam Aliansi Pedagang Pasar Weleri Kab. Kendal, Senin (28/3/2022). Dalam audiensi tersebut, mereka diterima Sekretaris Komisi B Muhammad Ngainirrichadl dan anggota David Ishaq Aryadi serta didampingi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah di ruang rapat komisi.

  • Komisi B Ingin Ada Kepastian Pengelolaan Objek Ketep Pass

    MUNGKID – Objek wisata Ketep Pass patut mendapatkan perhatian lebih, terutama dari sisi hukum. Rencana kehadiran Perda Pengelolaan Kepariwisataan di Jateng diharapkan bisa menjadi payung hukum supaya pengelolaan objek andalan milik Jateng itu tidak saja berdampak pada pendapatan daerah namun turut pula membawa kesejateraan kepada karyawan di objek tersebut.