KUNJUNGAN KERJA: Jajaran Komisi E saat berkunjung ke Kantor BPBD Kota Magelang.(foto: rahmat yw)
MAGELANG – Komisi E DPRD Jateng tengah selama dua hari (30-31/8) mencari data dan masukan penanganan dampak bencana hidrometerologi di dua lokasi yakni BPBD Kota Salatiga dan Kota Magelang. Didampingi Sekretaris BPBD Jateng Saifudin, saat berkunjung ke BPBD Kota Magelang diterima Asissten III Taufik dan Kepala BPBD Machbub Yani Arfian beserta jajarannya di ruang rapat kantor BPBD Kota Magelang. Rabu (31/8/2022).

Dalam paparannya Machbub Yani Arfian memaparkan, saat ini BPBD Kota Magelang dibantu 10 orang tenaga harian lepas (THL) yang dikhususkan sebagai Tim Reaksi Cepat (TRC). Keberadaan mereka dinilai vital karena memiliki jaringan sukarelawan yang siap terjun ke lapangan di saat terjadi bencana alam.
“Seperti saat banyak pohon yang tumbang, TRC bersama sukarelawan bahu membahu melakukan penanganan,” ucapnya.
BPBD Kota Magelang, lanjut Machbub, juga telah melakukan koordinasi dengan DPRD Provinsi Jawa Tengah terkait agenda memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutama di daerah-daerah yang rawan bencana. BPBD Kota Magelang juga telah merencanakan kegiatan secara rutin selain kegiatan KIE, mitigasi juga mengadakan pelatihan penanganan bencana alam. Beberapa waktu yang lalu BPBD Provinsi juga telah memberikan bantuan tenda dan perlengkapan alat masak serta genset. Saat ini yang sangat dibutuhkan BPBD Kota Magelang adalah membentuk Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops). Meski Sumber Daya Manusia yang ada di BPBD Magelang sangat terbatas tetap akan ada petugas yang akan selalu stan by.

Dalam kesempatan yang sama anggota Komisi E Joko Hariyanto menambahkan, meskipun BPBD Magelang baru saja lahir bersamaan dengan BPBD Kota Salatiga dibandingkan dengan BPBD yang sudah ada sebelumnya di Jawa Tengah. BPBD ini punya tanggung jawab yang luar biasa yang kaitannya dengan bencana alam, terkait pemenuhan sarana dan prasarana di BPBD Provinsi Jawa Tengah dapat lebih tanggap karena jangan sampai terjadi bencana alam banjir yang sangat besar dan tidak terduga yang memakan banyak korban jiwa seperti yang terjadi di Pakistan.
Sebelumnya saat di Salatiga, Komisi E mendapat informasi dari BPBD setempat mengenai kelengkapan sejumlah peralatan. Secara keseluruhan alat-alat yang dimiliki sudah memadahi serta memiliki tim penanganan kebencanaan. Hanya saja BPBD Kota Salatiga sampai sekarang ini belum memiliki kantor. Mereka masih menggunakan rumah dinas Sekretaris Daerah (Sekda) untuk dijadikan kantor sekaligus base camp.(ervan/priyanto)








