Mitologi Penunggu Pohon, Cara Leluhur Jaga Hutan Tetap Lestari

TANAM POHON. Sumanto dalam kegiatan penanaman pohon di tepian hutan di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar, Sabtu (30/5/2026). (foto boy priyanto)
KARANGANYAR – Pagi itu langit di lereng Gunung Lawu tampak cerah. Udara sejuk khas Tawangmangu menyelimuti tepian hutan di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.
Di antara gemericik aliran sungai yang menjadi hulu Air Terjun Grojogan Sewu, puluhan warga, sukarelawan, dan tokoh masyarakat berkumpul membawa bibit-bibit pohon yang akan ditanam. Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto mengajak masyarakat menengok kembali cara leluhur menjaga alam. Cara yang mungkin terdengar sederhana tapi terbukti mampu menjaga pepohonan tetap berdiri kokoh hingga puluhan bahkan ratusan tahun.
“Di sini ada genderuwo. Ana danyange. Mendengar itu, hayo sapa yang wani?” ujar Sumanto dihadapan warga, Sabtu (30/5/2026).

Kalimat itu disambut senyum dan anggukan masyarakat. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat bagaimana masyarakat masa lalu membangun kesadaran menjaga lingkungan melalui berbagai mitos tentang kawasan yang dianggap ‘berpenghuni’ atau memiliki penunggu.
Menurut Sumanto cerita tentang genderuwo, danyang maupun makhluk halus lainnya secara tidak langsung menjadi pagar sosial yang membuat masyarakat enggan merusak alam. Pohon-pohon besar tidak ditebang sembarangan karena diyakini ada penghuni yang menjaga kawasan tersebut. Larangan itu biasanya disertai keyakinan akan datangnya bala atau musibah apabila ada yang merusak alam dan membuat ‘penunggu’ marah.
“Kita sekarang ini mendapatkan hasilnya. Pohon-pohon yang sejak dulu dijaga sekarang menjadi pohon-pohon besar. Upaya kita selanjutnya menanam, merawat pohon ini, terutama yang dapat menyimpan air seperti Beringin, Preh, dan sebagainya. Agar, nantinya anak cucu kita bisa merasakan hasil kita sekarang ini,” jelasnya.

Di sepanjang aliran sungai itu, sebanyak 100 bibit pohon disiapkan untuk ditanam. Ada Beringin, Preh, Loh, merupakan jenis tanaman dipilih karena memiliki kemampuan menyimpan cadangan air dan memperkuat struktur tanah di kawasan lereng.
“Sesasi pisan (sebulan sekali) tolong ditengok. Dipupuk. Jangan sampai ada penjarahan bibit Pohon Beringin ini untuk kepentingan pribadi,” pesannya.
Di bawah rindangnya pepohonan Lawu, semangat yang sama juga disampaikan anggota DPRD Kabupaten Karanganyar Eko Pujianto. Baginya, Gunung Lawu diibaratkan sebuah gentong raksasa yang menyimpan ribuan kubik air untuk kebutuhan warga di sekitarnya.
“Kita setiap hari nyucup air dari Lawu, maka harus dijaga kelestariannya salah satunya dengan terus menanam pohon-pohon. Supaya anak cucu kita masih bisa menikmati kesegaran air dari Lawu,” tegasnya.
Kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan juga disampaikan Lurah Kalisoro Waluyo Jati. Menurut dia gerakan menanam pohon perlu menjadi budaya masyarakat sekaligus mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah daerah. Ia mengingatkan pula agar lereng Lawu tidak mengalami tekanan berlebihan akibat pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan pembangunan.
“Jangan sampai lereng Lawu nantinya bermasalah dengan pembukaan lahan baik itu untuk hotel, vila atau perumahan,” ujar Waluyo.
Ia menegaskan Desa Kalisoro selama ini termasuk kawasan yang tergolong kritis dan memiliki kerawanan bencana, terutama tanah longsor. Pagi yang cerah di tepian hutan Kalisoro dan di antara cerita tentang genderuwo dan danyang yang diwariskan leluhur, tersimpan pesan sederhana bahwa menjaga alam membutuhkan kesadaran bersama. (boy/red.)







