Pentingnya Jaga Keberlangsungan Pertanian

SOAL PETANI. Sumanto dalam kegiatan ‘Temu Tani’ bersama ratusan petani dan tokoh masyarakat di Desa Puntukrejo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, Sabtu (25/7/2026). (foto teguh prasetyo)
KARANGANYAR – Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah semakin berkurangnya regenerasi petani. Kecenderungan generasi muda yang enggan bertani dan maraknya penjualan lahan warisan menjadi ancaman serius untuk ketahanan pangan dan masa depan ekonomi masyarakat pedesaan.
Menurut dia salah satu turunnya minat anak muda di pertanian adalah tentang pendapatan, disisi lain pertanian adalah salah satu sektor yang akan terus dibutuhkan. Mengamati kebiasaan kerja dalam pertanian, Sumanto menemukan bahwa kurangnya manajemen dalam menanam dan panen kerap menjadikan hasil pendapatan berkurang.
Pesan tersebut disampaikan Sumanto saat menggelar ‘Temu Tani’ bersama ratusan petani dan tokoh masyarakat di Desa Puntukrejo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, Sabtu (25/7/2026). Dikatakan, sawah bukan sekadar aset yang bisa diperjualbelikan, melainkan sumber penghidupan yang mampu memberikan manfaat berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.
“Regenerasi petani sekarang semakin berkurang. Banyak anak muda tidak lagi berminat bertani. Bahkan, ketika menerima sawah atau tanah warisan, justru dijual. Jadi petani saat ini perlu menunjukan kalau bertani itu menjanjikan. Ini saja dengan manajemen diubah sedikit potensi pendapatan bisa jauh sekali,” ujarnya.
Ia menjelaskan keuntungan besar dari penjualan lahan sering kali hanya bersifat sementara. Tanpa perencanaan yang matang, uang hasil penjualan aset produktif tersebut dapat habis dalam waktu singkat, sementara lahan yang menjadi sumber pendapatan jangka panjang sudah tidak lagi dimiliki.
Sebagai gambaran, ia menyinggung kondisi masyarakat di sejumlah daerah yang menerima uang ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol. Tidak sedikit warga memperoleh dana hingga miliaran rupiah, namun sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumtif.

“Banyak yang membeli mobil, membangun rumah besar, atau memenuhi kebutuhan konsumtif lainnya. Setelah uangnya habis, mereka tidak lagi memiliki lahan untuk digarap dan belum memiliki pekerjaan baru. Akhirnya, kondisi ekonominya justru lebih sulit,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar mempertimbangkan dengan matang sebelum melepas tanah warisan yang masih produktif. Menurut dia mempertahankan lahan pertanian merupakan investasi jangka panjang yang mampu menopang kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. Ia juga mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan perhatian terhadap sektor pertanian melalui berbagai program yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
“Petani adalah profesi yang sangat mulia karena menghasilkan pangan bagi masyarakat. Kita membutuhkan generasi muda yang mau melanjutkan perjuangan para petani agar lahan pertanian tetap produktif dan ketahanan pangan tetap terjaga,” tandasnya. (azam/red.)






