Dipantau, Kredit Macet di Kajen & Batang

IMG 20260811 WA0043

KREDIT MACET. Komisi C DPRD Provinsi Jateng berdiskusi soal kredit bermasalah di Kantor Bank Jateng Cabang Kajen, Kabupaten Pekalongan, Senin (10/8/2026). (foto azarine charissa)

KAJEN – Kondisi perbankan di sejumlah daerah masih menghadapi tantangan, terutama tingginya kredit bermasalah yang menekan kinerja keuangan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Komisi C DPRD Provinsi Jateng saat meninjau kondisi Bank Jateng Cabang Kajen, Kabupaten Pekalongan, dan Bank Jateng Cabang Batang, Senin (10/8/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi C Dedy Endriyatno bersama sejumlah Anggota Komisi C dan organisasi perangkat daerah (OPD) Jateng. Pertemuan diarahkan untuk melihat secara langsung perkembangan penyaluran kredit, kondisi kredit bermasalah, dan berbagai tantangan perbankan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Bank Jateng Cabang Kajen Agung Raharjo, dalam sambutannya, menyampaikan gambaran umum kondisi perbankan di wilayah kerjanya. Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah kredit macet yang berdampak terhadap kinerja keuangan cabang.

1001091146

Hingga Juli 2026, kondisi keuangan Bank Jateng Cabang Kajen masih mengalami tekanan akibat kredit bermasalah. Kredit macet tersebut terutama berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam paparannya, Teguh menjelaskan Bank Jateng terus mendorong penyaluran kredit kepada pelaku UMKM sebagai bagian dari upaya menggerakkan perekonomian daerah. Di sisi lain, kerja sama dengan pemerintah daerah juga terus dikembangkan, termasuk mendukung digitalisasi pengelolaan keuangan pemerintah daerah bersama badan pengelola keuangan dan aset daerah (BPKAD).

Persoalan kredit bermasalah kemudian menjadi perhatian Anggota Komisi C, Catur Agus Saptono. Ia mempertanyakan mekanisme pemantauan dan penilaian kinerja cabang yang dilakukan kantor pusat Bank Jateng.

Teguh menjelaskan kantor pusat secara berkala melakukan pemantauan terhadap kinerja setiap kantor cabang. Di Kajen, kredit bermasalah masih menjadi persoalan utama karena sebagian besar berasal dari sektor UMKM.

Sementara itu, penyaluran kredit kepada koperasi belum berjalan sehingga belum mampu menjadi penopang pertumbuhan kredit. Upaya penyelesaian kredit bermasalah juga telah dilakukan melalui mekanisme lelang. Namun, beberapa kali proses lelang belum menghasilkan penjualan aset sehingga persoalan kredit macet masih membebani kinerja cabang.

Sementara itu, Bank Jateng Cabang Batang memaparkan kondisi perbankan di wilayahnya yang memiliki karakteristik berbeda. Penyaluran kredit di Kabupaten Batang masih didominasi sektor rumah tangga dengan porsi mencapai 69,8%. Kondisi tersebut menunjukkan pembiayaan kepada sektor usaha belum menjadi dominan karena jumlah pelaku usaha yang menjadi debitur masih terbatas.

Kepala Bank Jateng Cabang Batang Sigit Aji mengaku juga menghadapi tantangan dari sisi pengelolaan dana pemerintah daerah. Dana milik pemerintah daerah yang sebelumnya berada di Bank Jateng disebut mengalami penurunan hingga sekitar Rp 254 miliar.

Dedy Endriyatno menilai kondisi tersebut membutuhkan terobosan agar perbankan tidak hanya berperan sebagai lembaga penyalur kredit tapi juga menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut dia berbagai persoalan yang ditemukan dalam kunjungan tersebut harus dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret.

Pertemuan antara DPRD, Bank Jateng, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan tidak berhenti pada pemetaan persoalan tapi menghasilkan solusi yang dapat diterapkan. Dedy berharap terobosan yang dihasilkan dapat memperkuat kinerja perbankan sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan demikian, persoalan kredit bermasalah, keterbatasan akses layanan, hingga optimalisasi dana pemerintah daerah dapat ditangani secara bertahap dan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. (azarin/red.)

1001091138

Info Lainnya