DIALOG PARLEMEN: Bersinergi Lintas Generasi

ACARA DIALOG. Dipa Yustia Pasa bersama pelajar dan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng dalam Dialog Parlemen DPRD Provinsi Jateng di Gedung Berlian, Jumat (14/8/2026). (foto dwi nugrahini)
GEDUNG BERLIAN – Membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan lembaga legislatif. Dunia pendidikan dan generasi muda juga memiliki peran penting untuk memastikan pembangunan terus berjalan dan tidak terputus antargenerasi.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Parlemen DPRD Provinsi Jateng bertema ‘Bersinergi Lintas Generasi untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’ di Gedung Berlian, Jumat (14/8/2026). Dialog itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, sekaligus dirangkaikan dengan Rapat Paripurna dengan agenda mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia.
Suasana dialog mempertemukan 4 perspektif. Dari unsur legislatif hadir Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jateng Dipa Yustia Pasa dan Krisseptiana.

Sementara pemerintah diwakili Kepala Bidang Pendidikan Menengah Atas Dinas Pendidikan Provinsi Jateng Kusno. Perspektif generasi muda disampaikan Ketua Umum Forum Komunikasi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Kota Semarang Satrio Fajar Wicaksono.
Perbedaan latar belakang para narasumber membuat pembahasan tidak berhenti pada persoalan politik maupun pemerintahan. Percakapan berkembang pada bagaimana pengalaman generasi terdahulu dapat dipertemukan dengan gagasan, kreativitas, dan kemampuan adaptasi generasi muda.
Dipa Yustia Pasa mengatakan setiap generasi memiliki kekuatan masing-masing. Generasi senior memiliki pengalaman dan pengetahuan yang terbentuk dari perjalanan panjang bangsa. Sementara generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
“Generasi senior memiliki pengalaman, pengetahuan dan pemahaman terhadap perjalanan bangsa. Sedangkan generasi muda memiliki energi, kreativitas, kemampuan adaptasi, dan kedekatan dengan perkembangan teknologi,” ujar Dipa.
Menurut dia perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi jarak. Justru, pengalaman dan energi generasi muda perlu dipertemukan agar pembangunan memiliki pijakan yang kuat sekaligus mampu bergerak mengikuti perubahan zaman.
Senada, Krisseptiana menilai kolaborasi lintas generasi diperlukan agar pembangunan tidak mengalami keterputusan. Pengalaman masa lalu dapat menjadi pijakan, sedangkan gagasan baru menjadi modal menghadapi tantangan yang terus berubah.
“Sinergi keduanya menjadi penting agar proses pembangunan tidak mengalami keterputusan antargenerasi. Pengalaman masa lalu dapat menjadi pijakan, sementara gagasan dan inovasi generasi muda menjadi kekuatan untuk menghadapi perubahan zaman,” jelas perempuan yang akrab disapa Tia tersebut.
Pembahasan kemudian mengarah pada dunia pendidikan sebagai ruang penting untuk mempertemukan berbagai generasi. Sekolah dinilai bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik tapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kepedulian sosial.
Kusno mengatakan pendidikan memiliki posisi strategis mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari nilai akademik tapi juga dari kemampuan dan karakter peserta didik. Pelajar, lanjut dia, perlu dibekali kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus memiliki kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dari sisi generasi muda, Satrio Fajar Wicaksono membawa perspektif pelajar saat melihat tantangan pembangunan. Generasi muda tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan tapi juga diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam proses pembangunan.
Dialog tersebut akhirnya memperlihatkan satu benang merah yakni pembangunan nasional membutuhkan kerja bersama. Kata Dipa, pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan, parlemen menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan, dunia pendidikan membentuk sumber daya manusia, sedangkan generasi muda membawa energi dan gagasan baru.
Menurut Tia kolaborasi itu menjadi penting agar semangat kemerdekaan tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Nilai kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang diwariskan sekaligus dikembangkan oleh setiap generasi. (heni/red.)






