MEDIA TRADISIONAL: Ngaji Wayang, Media Syiar Tanpa Tinggalkan Budaya

20220210112300 IMG

SERAHKAN WAYANG : Anggota DPRD Jateng Endro Dwi CAhyono menyerahkan wayang kepada dalang/ustadz KH Ilham Supriyanto dalam Dialog Parlemen di Pati. (foto priskilla candra cahyaningtyas)

PATI – Ngaji wayang banyak digelar di wilayah Pati dan sekitarnya merupakan sarana dakwah/syiar agama dengan menggunakan media wayang. Setiap pakeliran disuguhkan dibabarkan secara gamblang dan jelas tanpa meninggalkan tuntutan agama. Konsep ngaji wayang menjadi media edukasi bagi masyarakat sebagai sarana menemukan jati diri.

Karena itulah dalam Dialog Parlemen “Nguri-uri Kesenian Khas Kabupaten Pati” mengangkat kesenian ngaji wayang sebagai tema kegiatan dengan lakon “Sirnaning Ampak-ampak Pandawa”. Bertempat di Aula Sasono Kencono, Rosi Asih, RM Sapto Renggo Baru, di Kecamatan Margirejo, Pati, Kamis (9/2/2022). Sebelumnya tiga narasumber yakni anggota Komisi E DPRD Jateng Endro Dwi Cahyono, dalang KH Ilham “Kalimasadha” Supriyanto, dan pemerhati budaya Paryanto.  

Endro menjelaskan, wayang nusantara sangat eksentrik dan tidak biasa. Dalam segi konten pun juga sangat inovatif dan mengedukasi masyarakat. Menariknya lagi, sampai sekarang ini anak-anak di Pati sudah tersugesti saat khitanan biasanya meminta orang tuanya untuk menggelar wayang. Ada rasa bangga bagi mereka saat dikhitan duduk bak raja, kemudian tamu hilir mudik dengan salam tempelnya kemudian disuguhi wayang. Dalam lakon yang disuguhkan terselip tuntutan agama dan budaya.

“Jadi substansi yang dibawakan tidak melenceng jauh dan alurnya jelas serta dapat menginspirasi pelaku seni yg lain tanpa mengurangi substansi dan bisa berkompetisi dengan budaya budaya lainnya” jelas Endro.

Selanjutnya  KH Ilham Supriyanto selaki pelaku seni menambahkan wayang kulit menggunakan ngaji wayang bisa menikmati hasil ceramah dan cerita wayang tanpa menghilangkan khasnya.  

“Ini adalah inovasi yang kami terapkan dengan ngaji sambil menikmati cerita wayang yang sebenarnya, ngaji wayang sekitar 2,5 jam,” jelas Ilham.

Menyikapi hal itu Paryanto selaku pemerhati kebudayaan berharap seniman hendaknya diberikan ruang yang cukup untuk berekspresi. Banyak seniman muda namun kurangnya fasilitas mereka kurang mampu berkembang maksimal.

“Sanggar seni di Pati sudah banyak, setiap tahun diadakan lomba dalang muda” ujarnya.

Wayang pun, lanjut dia, awalnya menjadi tontonan karena diselipkan ngaji maka menjadi tuntunan, ketoprak juga menjadi salah satu unggulan khas pati. Wayang dan batik khas pati di akui UNESCO (di tengah pandemi). Mempersiapkan generasi dalang dalang muda untuk nguri-uri kebudayaan khas Pati menjadi tanggung jawab bersama. Dialog Parlemen tersebut disiarkan Radio PAS FM Pati 101.0 dan siaran tunda melalui Kompas TV.(anif/priyanto)

Berita Terkait

  • Komisi A: Jateng Perlu Diorama Kearsipan

    BANTUL – Pengelolaan aset daerah tidak hanya tanah dan bangunan tapi seni dan budaya juga perlu mendapat perhatian serius. Dalam hal ini, Komisi A DPRD Provinsi Jateng menilai perlunya pengelolaan kearsipan yang maksimal agar aset budaya Jateng lebih dikenal luas.

  • Partisipasi Masyarakat dalam Demokrasi

    SEMARANG – Semua masyarakat harus berpartisipasi aktif dalam demokrasi. Demikian disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Sukirman, saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘Pemeliharaan Keharmonisan dan Kerukunan Antar Umat Beragama serta Penghayatan Kepercayaan’ yang digelar Badan Kesbangpol Provinsi Jateng di Hotel Puri Garden Kota Semarang, Senin (22/2/2021).

  • MEDIA TRADISIONAL: Terus Kembangkan Tari Sintren dan Tari Renggong Manis

    KAJEN – Anggota Komisi B DPRD Jateng Pujo Widiono mengungkapkan, pihaknya akan terus mendorong kesenian tradisional daerah khususnya Kabupaten Pekalongan agar semakin berkembang, bertahan, dan dilestarikan oleh para seniman generasi muda. Hal tersebut disampaikannya dalam pentas kesenian Tari Sintren dan Tari Renggong Manis yang berlangsung di Sanggar Seni Linggo Laras, Desa Linggo Sari, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Minggu (23/10/2022).

  • Tiga Fungsi DPRD Jadi Fokus Perhatian Mahasiswa Unwahas

    GEDUNG BERLIAN – Ketua Komisi A Mohamad Saleh membagikan pengetahuan mengenai fungsi DPRD sebagai lembaga legislatif kepada mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang, Jumat (31/05/2024). Bertempat di ruang banggar DPRD Provinsi Jawa Tengah Mohammad Saleh bersama 46 mahasiswa universitas Wahid Hasyim membahas tentang fungsi DPRD.

  • Komisi E Kawal Penuntasan Penempatan Guru P1

    GEDUNG BERLIAN – Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah menerima audiensi Forum Guru Prioritas Pertama Negeri dan Swasta (FGPPNS) Jateng di Ruang Kerja Komisi, Senin (29/1/2024). Dalam kesempatan itu, mereka mempertanyakan formasi untuk penuntasan penempatan guru lolos Passing Grade Prioritas Pertama (P1) di lingkungan Provinsi Jawa Tengah untuk segera direalisasikan.