MEDIA TRADISIONAL: Kudus, Dibangun dari Empat Budaya

WhatsApp Image 2022 06 01 at 11.19.44

BERI PAPARAN: Anggota DPRD Mawahib sedang memberikan paparan dalam acara mengenai budaya Kota Kudus.(foto: dwi nugrahini)

KUDUS – Kudus dibangun dari empat budaya. Jawa, China, Arab, dan Eropa. Perpaduan corak budaya itulah sampai sekarang masih terpelihara, baik itu kesenian sampai pada bangunan. Karena itulah, tak salah bila memaknai Kudus sebagai kota empat negeri.

Keberagaman yang ada di Kudus dikupas dalam acara “Media Tradisional/Dialog Parlemen: Menelusuri Jejak Kudus, Kota Empat Negeri”, di Rumah Makan Saung Bambu Wulung, Kota Kudus, Selasa (31/5/2022). Narasumber yang dihadirkan semuanya orang-orang yang berkompeten dan dibesarkan oleh tradisi yang masih terjaga di Kota Kretek itu. Ada Mawahib, anggota DPRD Jateng; Abdul Jalil (budayawan); Umar Ali (Tenaga Ahli Bupati Bidang Kebijakan Publik); dan Agus Susanto (sejarawan Kudus).

Sebagai putra daerah, Mawahib mengakui Kudus merupakan daerah yang heterogen dengan sikap toleransinya sangat tinggi. Sejak masih dalam pendiriannya, Sunan Kudus merupakan pelatak dasar toleransi. Sampai sekarang pun, masih dijaga keyakinan tidak menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan untuk umat Hindu. Dalam membangun masjid pun, langgam arsitek Masjid Menara Kudus atau Masjid Al Aqsa Manarat Qudus juga perpaduan Arab dan China.       

“Bagi saya, Kudus sangat menarik. Nilai kearifan lokal terbentuk dan terjaga sampai sekarang ini,”ucapnya.

Di mata Abdul Jalil, seorang budayawan mengakui Kudus perlahan mulai menunjukkan kemajuan dan kejayaan. Sebagaimana dalam tembang Lir Ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar, cah angon cah angon penekno blimbing kuwi…Kudus telah mampu meniti peradaban.   

“Tembang Lir Ilir sebuah motivasi agar kita semua bangkit sesuai dengan kemampuan kita masing-masing untuk menuju kemajuan dan kejayaan,” katanya.

Sementara Umar Ali melihat peradaban daerah di lereng Muria sangatlah tua. Akulturasi terjalin begitu kuat. Bahkan dua mazab di Islam pun yakni Syafii dan Hanafai bisa diterima.  

Selanjutnya Agus Suprapto menyoroti mengenai branding daerah sebagai kota kretek yang begitu kuat. Branding itu bisa sejajar dengan Jepara sebagai kota ukir, Yogya kota gudeg. Maka, banggalah bagi masyarakat Kudus yang memiliki identitas sebagai kota kretek. Dalam kesempatan itu dikenalkan suluk “4 Negeri”, kemudian pementasan kesenian barongsai.(anif/priyanto)

Info Lainnya

  • Perlu, Penguatan Pengawasan Pesantren Ramah Perempuan & Anak

    JAKARTA – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pesantren menjadi alasan Komisi E DPRD Provinsi Jateng mendatangi Kantor Kementerian Agama RI, Kamis (23/7/2026). Langkah itu ditempuh untuk memastikan kebijakan perlindungan santri tidak berhenti pada regulasi tapi benar-benar berjalan efektif di setiap pesantren.

  • Destinasi Wisata Terintegrasi Potensi Alam Perlu Diperbanyak

    BANDUNG – Provinsi Jateng membutuhkan model pengelolaan destinasi wisata yang mampu mengintegrasikan potensi alam, masyarakat, dan investasi agar mampu bersaing dengan daerah lain. Untuk itu, Komisi B DPRD Provinsi Jateng memilih mempelajari pengelolaan Floating Market Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (23/7/2026), yang dinilai berhasil mengembangkan wisata berbasis perairan secara berkelanjutan

  • Dikonsultasikan, Dana Cadangan Pilkada ke Kemendagri

    JAKARTA — Komisi A DPRD Provinsi Jateng mewanti-wanti potensi ledakan anggaran pada gelaran Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2029. Mengacu pada pengalaman sebelumnya, total kebutuhan dana untuk menyokong pesta demokrasi lima tahunan di Jateng diperkirakan tembus hingga Rp 2,2 triliun.  

  • Penting, Akuntabilitas Tata Kelola Pemerintah Desa

    SEMARANG — Komisi A DPRD Provinsi Jateng mendorong pemerintah desa di seluruh Jateng untuk memperbaiki tata kelola perencanaan dan evaluasi anggaran desa. Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng Putro Negoro Rekthosetho menegaskan bahwa indikator keberhasilan pembangunan nasional sangat ditentukan sejauh mana pemdes mampu mengelola anggarannya secara terbuka dan berintegrasi.