Destinasi Wisata Terintegrasi Potensi Alam Perlu Diperbanyak

SOAL WISATA. Komisi B DPRD Provinsi Jateng saat meninjau pengelolaan Floating Market Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (23/7/2026). (foto evi rahmawati)
BANDUNG โ Provinsi Jateng membutuhkan model pengelolaan destinasi wisata yang mampu mengintegrasikan potensi alam, masyarakat, dan investasi agar mampu bersaing dengan daerah lain. Untuk itu, Komisi B DPRD Provinsi Jateng memilih mempelajari pengelolaan Floating Market Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (23/7/2026), yang dinilai berhasil mengembangkan wisata berbasis perairan secara berkelanjutan.
ย
Ketua Komisi B, Sri Hartini, menjelaskan sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak utama ekonomi daerah. Meskipun memiliki potensi besar dari segi alam dan budaya, Provinsi Jateng masih membutuhkan inovasi model pengelolaan agar lebih kompetitif. Baginya, Floating Market Lembang dipilih sebagai objek studi karena berhasil mengintegrasikan keindahan alam, kearifan lokal, dan pengelolaan berbasis masyarakat yang terstruktur.
“Konsep mengintegrasikan potensi inilah yang perlu dikuatkan dalam sektor kepariwisataan di Jateng. Sumber daya alam ada, terlebih manusia. Pemerintah sudah saat membangkitkan pariwisata dengan konsep ini. Jangan lupa menarik investor yang betul betul minat pada pengembangan Jateng sangat perlu,” pintanya.

Sebenarnya model pengembangan konsep mengintegrasikan potensi di Provinsi Jateng sudah mulai dikembangkan. Sekretaris Komisi B, Sholehah Kurniawati, mengutarakan berdasarkan hasil kajian, model pengelolaan ini berpotensi diadaptasi di sejumlah kawasan perairan di Jateng seperti Rawa Pening, Waduk Wadaslintang, dan Waduk Jatibarang.
“Saat ini, tantangan yang dihadapi antara lain belum umumnya konsep pengelolaan terpadu, keterlibatan masyarakat yang belum terstruktur, serta infrastruktur dan promosi yang perlu ditingkatkan,” ucapnya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan mempelajari sejarah, konsep, dan pola tata kelola destinasi tersebut. Selama beberapa jam Komisi B melihat langsung pengelolaan objek wisata ini. Floating Market Lembang dikembangkan dari lahan bekas tambang yang direvitalisasi menjadi kawasan wisata terpadu dengan konsep pasar apung di atas danau buatan, dilengkapi kawasan kuliner, belanja, rekreasi keluarga, serta edukasi lingkungan.
ย
Pengelolaannya menerapkan pembagian peran yang jelas antara pemerintah daerah, pengelola, dan masyarakat. Pedagang yang tergabung dalam kelompok pengelola wajib memenuhi standar kebersihan, keamanan, dan kualitas produk melalui proses seleksi serta pelatihan berkala. Pendanaan operasionalnya didukung kombinasi pendapatan usaha, anggaran daerah, dan investasi swasta, dengan pengawasan ketat terhadap pengelolaan limbah dan kualitas air danau.
ย
Destinasi itu terbukti membawa dampak positif, antara lain menyerap tenaga kerja lokal, mendorong pertumbuhan UMKM, serta meningkatkan pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, kawasan ini juga menjadi bukti nyata keberhasilan reklamasi lahan rusak menjadi kawasan produktif.
ย
Terhadap hal tersebut, Komisi B kata Sri Hartini merumuskan 5 rekomendasi utama. Yakni, menyusun peta jalan pengembangan wisata berbasis perairan, membentuk dan membina kelompok pengelola wisata lokal, memperkuat infrastruktur dan pengelolaan lingkungan, menjalin kemitraan seimbang antara pemerintah, masyarakat, dan swasta, serta mengintegrasikan promosi ke jaringan pariwisata daerah dan nasional dan selanjutnya akan menjadi bahan pertimbangan DPRD dan Pemerintah Provinsi Jateng untuk merumuskan kebijakan pariwisata yang berdaya saing, berkeadilan, dan berkelanjutan. (gempi/red.)






