Komisi D Soroti Pengelolaan Air Limbah

Screenshot 20211009

BAHAS LIMBAH. Alwin Basri menyerahkan plakat kepada Rosdiana Puji Lestari seusai berdiskusi soal pengelolaan air limbah di Balai Pialam) di Kecamatam Sewon Kabupaten Bantul Provinsi DIY, Jumat (8/10/2021). (foto dwi nugrahini)

YOGYAKARTA – Pengelolaan air limbah perlu mendapat perhatian lebih dari semua pihak guna mendukung kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, Komisi D DPRD Provinsi Jateng berupaya melakukan kajian, mengingat di Jateng sendiri belum memiliki pihak pengelola air limbah.

Dalam upayanya itu, Komisi D melakukan diskusi dengan Balai Pengelola Infrastruktur Air Limbah & Air Minum Perkotaan (Balai Pialam) di Kecamatam Sewon Kabupaten Bantul Provinsi DIY, Jumat (8/10/2021), membahas pola pengelolaan air limbah. Saat berdiskusi dengan jajaran balai, Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng doktor Alwin Basri menanyakan soal proses pembangunan balai.

Ia menilai keberadaan balai itu sangat penting karena kinerjanya mampu mengelola sejumlah besar limbah. Ia berharap balai seperti itu dapat menjadi percontohan di Jateng.

“Bagaimana proses konstruksi pembuatan balai tersebut dengan sistem pengelolaan terpusat sehingga menjadi salah satu IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) terbaik dan lumayan besar untuk dijadikan contoh Jateng di kemudian hari, mengingat Jateng belum memiliki balai pengelolaan air limbah yang cukup besar,” kata Politikus PDI Perjuangan itu.

Sementara, Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Hadi Santoso mengenai anggaran dalam pembangunan dan pengelolaan balai tersebut. Hal itu ditanyakannya mengingat pembangunan balai yang sangat besar dan terpusat sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.

“Bagaimana pengaruh sistem tersebut dengan biaya yang dikeluarkan? Dan, UPT (Unit Pelaksana Teknis) IPAL Sewon itu menjadi kewenangan kabupaten/ kota atau Provinsi DIY?,” tanya legislator dari Fraksi PKS itu. 

Menanggapinya, Kepala Balai Pialam Provinsi DIY Rosdiana Puji Lestari menjelaskan IPAL tersebut berada di Bantul karena wilayahnya merupakan wilayah terendah di Provinsi DIY dibandingkan dengan daerah lainnya. Bangunan IPAL sudah ada sejak 1992 masa Pemerintahan Hamengkubuwono VIII yang terletak di sekitar Keraton Ngasem, lalu pada 1994 konstruksi dipindahkan ke daerah Sewon Bantul dengan izin Sultan Ground dimana bangunan berdiri diatas wilayah Kesultanan Ngayogyakarta dan diperuntukan untuk kesejahteraan masyarakat di sekitarnya sehingga proses perizinan pembangunan lebih mudah.

Untuk sistem pengelolaan ada 2 sistem yaitu melalui sistem pengolahan air limbah domestik (SPALD) menggunakan IPAL dengan jaringan perpipaan dan melalui SPALD-S (setempat) yakni tangki septic tank individu. Untuk IPAL Sewon, hanya pengelolaan air limbah melalui jaringan terpusat secara regional, sedangkan untuk pengelolaan air limbah terpusat skala kawasan dilayani dengan IPAL Kawasan maupun IPAL Komunal, dan untuk pelayanan individual dengan SPALD-S tangki septic tank individu di masyarakat di fasilitasi dengan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) untuk pengolahan lumpur tinja dari pengurasan tanki septic tank individual.

Jadi, dari 2 sistem jaringan pengelolaan IPAL tersebut, yang pertama saluran perpipaan yang terdiri dari pipa sambungan rumah (chamber). Pipa layanan itu sendiri menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi tapi, sesuai Perda Limbah Domestik, limbah yang berasal dari rumah tangga untuk tarif retribusinya menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/ kota. Yang kedua, saptic tank untuk angkutan tinja menjadi kewenangan kabupaten/ kota, dengan biaya Rp 58.000 sekali penyedotan di IPAL Sewon ini.

“Kami melakukan pengelolaan limbah dengan sistem terpusat, dengan menggunakan pipa-pipa saluran untuk mengalirkan air limbah yang berasal dari air buangan/ limbah rumah tangga masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Sleman, Bantul, dan kota Yogyakarta ke IPAL Sewon,” jelas Rosdiana.

Ditambahkannya, dengan adanya Balai Pialam Sewon yang memiliki fungsi untuk melindungi lingkungan dari pencemaran air limbah rumah tangga, peningkatan kualitas dan estetika lingkungan dapat terwujud. Hasil IPAL yang berupa air itu harus diolah menjadi bersih kembali sesuai mutu lalu disalurkan kembali dan lumpur air limbah diolah menjadi pupuk organik dan batako. (hini/ariel)

Info Lainnya

  • Penting, Akuntabilitas Tata Kelola Pemerintah Desa

    SEMARANG — Komisi A DPRD Provinsi Jateng mendorong pemerintah desa di seluruh Jateng untuk memperbaiki tata kelola perencanaan dan evaluasi anggaran desa. Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng Putro Negoro Rekthosetho menegaskan bahwa indikator keberhasilan pembangunan nasional sangat ditentukan sejauh mana pemdes mampu mengelola anggarannya secara terbuka dan berintegrasi.

  • Sekolah Vokasi Pertanian Harus Ikuti Kebutuhan Industri

    BANJARNEGARA – Komisi E DPRD Provinsi Jateng menaruh perhatian pada penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Saat mengunjungi balai milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jateng itu, Selasa (21/7/2026), Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng Messy Widiastuti menegaskan pelatihan harus terus diperbarui agar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan perkembangan sektor pertanian modern.

  • Koridor Baru Aglomerasi Trans Jateng Siap Layani Rute Gelangmanggung

    MUNGKID – Koridor baru Aglomerasi Trans Jateng untuk wilayah Gelangmanggung (Magelang–Temanggung) rencananya melayani rute Terminal Maron (Temanggung)–Terminal Tidar (Kota Magelang)–Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) pulang-pergi. Layanan itu dioperasikan mulai Agustus 2027 menggunakan 14 armada bus medium.

  • Komisi C Pantau Kinerja Bank Jateng Cabang Karanganyar & Sukoharjo

    KARANGANYAR – Komisi C DPRD Provinsi Jateng menyoroti kinerja Bank Jateng di tingkat kantor cabang agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jateng Bambang Haryanto Baharudin menegaskan, sebagai penyumbang sekitar 90% pendapatan BUMD bagi daerah, Bank Jateng harus menunjukkan kinerja yang sehat dan terus meningkat.

  • Tata Kelola Lahan yang Baik Dukung Sektor Pariwisataan

    PEMALANG – Guna mendapatkan data dan informasi yang lebih komprehensif, Komisi B DPRD Provinsi Jateng bertandang ke Kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Pemalang dan Kantor Cabang Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan Provinsi Jateng di Kota Pekalongan, Senin (20/7/2026). Kegiatan itu dilakukan dalam rangka penyusunan Raperda tentang Tata Kelola & Rehabilitasi Lahan Kritis & Reklamasi Hutan Daerah