Optimalkan BUMD dan Aset Guna Perkuat PAD Jateng

WhatsApp Image 2021 10 20 at 11.32.45 (1)

JADI NARASUMBER : Wakil Ketua Komisi C Sriyanto Saputro menjadi narasumber dalam dialog televisi.(foto: cahya depe)

SURAKARTA – Pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta aset daerah perlu didorong guna bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Selama ini PAD Jateng masih bertopang pada pendapatan sektor pajak.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sriyanto Saputro mengemukakan, selama ini terobosan BUMD untuk PAD belum terlihat baru Bank Jateng. Sebenarnya DPRD sekarang ini tengah berupaya memetakan potensi BUMD yang ada sesuai dengan tingkat pengelolaan. Ada BUMD dengan kondisi tidak sehat namun tetap dipertahankan, ada pula dengan pengelolaan yang sehat namun tidak bisa optimal.

“Untuk BUMD yang tidak sehat bagaimana tindak lanjutnya. Sebenarnya wacana melikuidasi BUMD yang tidak sehat telah bergulir lama. Waktu saya masih menjadi wartawan, periode 1990 an masalah likuidasi sudah mengemuka. Ternyata kebijakan itu masih tarik ulur,” ucapnya saat menjadi narasumber dalam Dialog Aspirasi Jawa Tengah “Geliat BUMD Jawa Tengah” di TATV Surakarta, Rabu (20/10/2021).

Sriyanto juga menyebutkan mengenai kinerja BPR/BKK yang mulai membaik. Hanya saja untuk ekspansi lapangan terutama pada kelas mikro belum terlihat menonjol. Perlu penambahan modal supaya bisa menambah deviden pada PAD.

Bagaimana dengan BUMD yang lain? Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Tengah Eddy Sulistiyo Bramiyanto yang turut menjadi narasumber dalama cara itu mengakui ada BUMD yang sudah tidak kompeten untuk sekarang ini. Bersama Komisi C pihaknya akan berupaya mengoptimalkan peran BUMD. Dia mencontohkan seperti PT PRPP akan menjadi sebuah holding sektor pariwisata. PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) tengah mengembangkan sektor peternakan.

“Daerah tanpa ditopang PAD bisa pincang. Salah satu upaya meningkatkan PAD adalah dengan mengoptimalkan BUMD,” ucapnya.

Dari kalagan akademisi dilontarkan Edi Wibowo selaku Dekan Fakultas Ekonomi Unisri Surakarta mengemukakan BUMD sudah semestinya menjadi salah satu sektor bisa memberikan peran sekaligus pendapatan kepada pemerintah.

Dilihat dari kontribusi BUMD pada PAD masih sangat rendah sekitar 3%. Bahkan dari PAD pun masih menggantungkan dari pajak saja. Supaya bisa mengoptimalkan peran BUMD, satu-satunya jalan adalah keputusan yang berani mengeksekusi.

“Kalau ada BUMD yang sudah tidak bisa optimal lagi, harus dieksekusi untuk dilikuidasi. Profesionalitas dan kompeten sangat dibutuhkan dalam mengelola BUMD,” ucapnya.(cahya/priyanto)

Info Lainnya

  • Hadapi Kekeringan, Stok Air Bendungan Masih Aman

    JEPARA – DPRD Provinsi Jateng meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Nur Saadah menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menjamin kebutuhan air masyarakat, termasuk memastikan distribusi bantuan air bersih dilakukan tanpa membebani warga terdampak.

  • Warga Mojogedang Antusias Hijaukan Sungai

    KARANGANYAR – Warga Desa Ngadirejo Kecamatan Mojogedang merasa senang adanya kegiatan penanaman di sekitar bantaran sungai. Kegiatan yang dinamakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi’ digalakkan Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto bertujuan untuk menghijaukan area sekitar sungai supaya mengoptimalkan fungsi penyimpanan air sehingga keberadaan belik atau mata air ada lagi.

  • RAPAT PARIPURNA: Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal 

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (2/7/2026), Komisi E DPRD Provinsi Jateng memberikan penjelasan tentang Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal. Disampaikan oleh Anggota Komisi E, Jafar Shodiq, raperda itu didasarkan atas tingginya kontribusi tenaga kerja informal memberikan kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran.