Meneladani Semangat Juang ‘Pertempuran Lima Hari Semarang’

TEATRIKAL PERANG. Acara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang’ di kawasan Monumen Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu (14/10/2026) malam. (foto setyo herlambang)
SEMARANG – DPRD Provinsi Jateng mengajak masyarakat terus merawat ingatan sejarah ‘Pertempuran Lima Hari di Semarang’ sekaligus meneladani keberanian, pengorbanan, dan jiwa kenegaraan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Semangat itu dinilai tetap relevan sebagai pijakan generasi sekarang mengisi kemerdekaan.
Pesan tersebut mengemuka saat Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jateng Endro Dwi Cahyono yang mewakili Pimpinan DPRD Provinsi Jateng bersama Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng Messy Widiastuti menghadiri peringatan ‘Pertempuran Lima Hari Semarang’ di kawasan Monumen Tugu Muda, Rabu (14/10/2026) malam. Keduanya tampak menghayati fragmentasi peristiwa heroik yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan rakyat Semarang itu.
Bagi Endro, peringatan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Masyarakat perlu memahami kembali sejarah perjuangan dan mengenang tokoh-tokoh yang mempertaruhkan jiwa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nama dokter Kariadi, Gubernur Wongsonegoro, dan Komisaris Polisi II RM. Bambang Soeprapto Dipoekoesumo menjadi bagian penting dari ingatan kolektif atas peristiwa tersebut.

Messy Widiastuti menekankan pentingnya meneladani jiwa kenegaraan para pahlawan. Nilai perjuangan, kata dia, perlu diteruskan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, bukan sekadar dikenang melalui peringatan sejarah.
Peringatan berlangsung khidmat sekaligus menggugah emosi melalui fragmentasi teater yang dibawakan Teater Pitoelas dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang. Suasana pertempuran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 1945 tergambarkan secara sederhana dan utuh.
Ada kisah pengorbanan dokter Kariadi, yang gugur ketika hendak memeriksa kabar mengenai sumber air minum di wilayah Siranda yang diduga diracuni. Jepang membakar sejumlah kampung seperti Bulu, Pendrikan, Sobokarti, Batik, bahkan membunuh kalangan pemuda, sampai Kompol Bambang memimpin pertempuran. Disajikan secara sederhana namun mengena.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan ‘Pertempuran Lima Hari Semarang’ menjadi bukti keberanian para pejuang di Kota Atlas menghadapi situasi yang mengancam kemerdekaan.(rafdan/red.)







