Kesehatan Mental Perempuan, Kunci Kebahagiaan Keluarga

DISKUSI KESEHATAN. DWP Setwan Provinsi Jateng menggelar diskusi kesehatan di Lobby Gedung Berlian, Jumat (9/10/2026), dihadiri Komisi E DPRD Provinsi Jateng.(foto teguh prasetyo)
GEDUNG BERLIAN – Menjaga kesehatan mental, perempuan tidak cukup hanya dengan mengelola emosi. Pembagian tanggung jawab rumah tangga yang adil, dukungan lingkungan kerja, dan keberanian menyediakan waktu untuk diri sendiri menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup.
Pesan itu mengemuka dalam seminar kesehatan mental yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat DPRD (Setwan) Provinsi Jateng di Gedung Berlian, Jumat (9/10/2026), untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Internasional. Kegiatan tersebut dirangkai dengan senam sehat dan pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan kesehatan mental oleh tim RSUD Amino Gondohutomo Kota Semarang.
Seminar dibuka Kepala Bagian Keuangan Setwan Provinsi Jateng Moh. Sigit AP mewakili Penasihat DWP Sekretaris DPRD Jateng Agung Hariyadi. Hadir sebagai narasumber, Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng Messy Widiastuti dan psikiater dokter Rini Suprapti.

Ketua DWP Setwan DPRD Provinsi Jateng Ismi Agung Hariyadi mengatakan kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Karena itu, kegiatan yang diawali dengan senam sehat tersebut menjadi pengingat bahwa kebugaran fisik perlu berjalan beriringan dengan kondisi psikologis yang baik.
Menurut dia kesehatan mental perempuan turut memengaruhi suasana dan hubungan di dalam keluarga. Ketika seorang ibu mampu menjaga keseimbangan emosi dan kondisi psikologisnya, hubungan dengan pasangan dan anak-anak diharapkan menjadi lebih harmonis.
“Harapannya, melalui seminar ini, ibu-ibu bisa lebih paham mengelola diri, mengontrol emosi, dan berani mengatakan tidak ketika merasa lelah. Urusan rumah tangga dan pekerjaan sangat banyak sehingga perlu ada keseimbangan antara waktu bekerja, keluarga, dan kebutuhan diri sendiri,” ujarnya.

Persoalan kesehatan mental perempuan juga menjadi perhatian Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng Messy Widiastuti. Ia menilai perempuan memiliki peran beragam, baik sebagai individu, pengasuh, pencari nafkah, maupun penggerak kehidupan keluarga dan lingkungan sosial. Besarnya tanggung jawab tersebut perlu diimbangi pembagian peran yang proporsional.
“Harus ada pembagian kerja yang baik antara suami, istri, dan anak-anak di dalam keluarga, sehingga setiap orang mempunyai waktu untuk dirinya sendiri,” kata Messy.
Ia mengajak keluarga untuk membangun kesadaran bahwa pekerjaan domestik membutuhkan tenaga, waktu, dan perhatian. Pembagian tugas yang lebih adil dapat membantu perempuan memperoleh kesempatan beristirahat, mengembangkan minat, dan menjalani aktivitas yang memberikan kepuasan pribadi.
Psikiater Rini Suprapti menjelaskan perempuan kerap menghadapi tekanan tambahan karena masih memikul porsi besar dalam pengasuhan, perawatan anggota keluarga, dan pekerjaan rumah tangga. Kondisi tersebut dapat membatasi kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan energi. Karena itu, menurut Rini, dukungan dari pasangan, keluarga, atasan, dan rekan kerja memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental perempuan.
Mengatur waktu istirahat, melakukan aktivitas fisik, menjaga komunikasi dengan orang terdekat, dan membagi tanggung jawab secara terbuka dapat menjadi langkah awal. Pada akhirnya, keluarga yang sehat tidak dibangun dengan menuntut satu orang untuk selalu kuat. Keseimbangan justru tumbuh ketika setiap anggota keluarga saling berbagi tanggung jawab, menghargai batas kemampuan, dan memberikan ruang bagi satu sama lain untuk tetap sehat serta bahagia. (hini/red.)






