Atasi Rawan Pangan, Urban Farming Perlu Ditingkatkan

IMG 20260422 WA0321

URBAN FARMING. Komisi C DPRD Provinsi Jateng berdiskusi dengan Pemkab Wonogiri, Rabu (22/4/2026), membahas soal urban farming. (foto setyo herlambang)

SRAGEN – Komisi C DPRD Provinsi Jateng berdiskusi bersama jajaran Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen guna membahas peningkatan produksi pangan lokal. Diskusi juga membahas soal pertanian urban guna mengatasi kerawanan pangan.

Setibanya di sana, rombongan Komisi C disambut Asisten Perekonomian & Pembangunan Tugiono dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, & Perikanan Eka Rini Mumpuni Titi Lestari, Rabu (22/4/2026). Dalam berdiskusi, Wakil Ketua Komisi C, Dedy Endriyatno, mengungkapkan Kabupaten Sragen tidak perlu diragukan karena merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Jateng dan di tingkat Nasional.

“Sragen diakui sebagai lumbung pangan yang kuat memiliki peran strategis dalam produksi padi nasional karena memiliki tingkat ketersediaan pangan mencapai 70 hingga 75 persen. Selanjutnya, langkah bagaimana supaya tetap terjaga?” tanyanya.

Dedy juga menekankan pentingnya menjaga stabislitas perekonomian masyarakat Sragen itu sendiri. “Jadi, meskipun hasil pangannya baik, bagaimana penduduk miskinnya? Nah, ini perlu diperhatikan juga,” sambungnya.

Anggota Komisi C, Asrar, juga mempertanyakan peran serta BUMD maupun stakeholder. Peran mereka dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan peningkatan produksi pangan lokal.

“Tak juga kalah penting, bagaimana daya dukung selain dari Pemerintah, baik BUMD maupun stakeholder-nya. Hal itu sangat mempengaruhi kestabilan perkonomian di tingkat masyarakat kelas bawah juga,” kata Asrar.

Menanggapi hal tersebut, Tugiono mengatakan selama ini Pemkab Sragen sudah melakukan banyak inovasi untuk peningkatan produksi pangan lokal. Selain itu, guna menjaga kestabilan ekonomi masyarakat di tingkat bawah, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Bank Jateng setempat guna memberikan suntikan pinjaman dengan bunga minim untuk dimanfaatkan oleh para petani padi dan jagung.

“Benar, daerah kami merupakan salah satu lumbung. Kami juga sudah melakukan banyak inovasi pendukung yaitu dengan pembangunan sumur sibel dan irigasi, program listrik masuk sawah, pemanfaatan air permukaan sepanjang area persawahan, dan strategi lainnya,” kata Tugiono.

Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menambahkan luas daerah tanam padi selalu menjadi nomor 2 atau 3 se-Jateng. Dikatakan. hasil produksi beras surplus 3 kali untuk kebutuhan masyarakat Sragen.

“Luas wilayahnya dari 99.457 hektar terbagi menjadi lahan pertanian sawah seluas 40.850,17 hektar, lahan pertanian non sawah seluas 25.915,92 hektar dan lahan bukan pertanian 32.690,91 hektar. Terbagi dalam 11 Kecamatan diatas Sungai Bengawan dan 9 Kecamatan di Selatan Sungai Bengawan Solo,” katanya.

Untuk strategi ketahanan pangan, lanjut dia, meningkatkan produksi pangan, perikanan, dan peternakan. Ketahanan pangan keluarga, diversifikasi konsumsi pangan dan menciptakan sistem pertanian berkelanjutan dengan pendampingan urban farming dan sosialisasi benih unggul dan menciptakan petani milenial. (choirul/red.)