Kelompok Tani Pendawa Kencana Tak Bergantung Pupuk Kimia

WhatsApp Image 2024 06 25 at 21.00.55

LIHAT PEMUPUKAN : Komisi B melihat proses pembuatan pupuk yang dilakukan CV Pendawa Kencana di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.(foto: mentaripagi)

SLEMAN – Penguatan data pada Raperda Sistem Pertanian sangatlah penting. Komisi B terus berupaya menjadikan isi rancangan tersebut setelah disahkan benar-benar menjadi produk hukum yang benar-benar bisa memajukan sistem pertanian di Jawa Tengah.

Karena itulah, pada Selasa (25/6/2024), Komisi B berkesempatan melihat langsung balai benih milik CV Pendawa Kencana Multi Farm yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY. Usaha tersebut didirikan oleh Ir RM H Gembong Danudiningrat yang semula untuk wadah bersosialisasi dengan masyarakat khususnya dalam pengembangan bidang pertanian, mulai dari organik, peternakan terpadu dengan menggunakan bakteri khusus, perikanan dan perkebunan.

Diungkapkan Ketua Komisi B Sarno, kedatangannya beserta rombongan ingin mengetahui konsep pengembangan yang dilakukan kelompok Pendawa Kencana ini. Hasil ini nanti diharapkan bisa masuk pada Raperda Sistem Pertanian kita.

“Harapannya, ketergantungan petani akan pupuk kimia bisa berkurang dan kembali menggunakan pupuk organik,” ucapnya.

Pada kesempatan itu pula, Budi Raharjo selaku Direktur Operasional Pendawa Kencana menjelaskan, jika terjadinya gagal panen kekeringan/susah air irigasi itu menjadi tangisan para petani di Indonesia yang mana memiliki lahan pertanian yang luas. Pihaknya memiliki program yang dinamakan Petani Mandiri. Itu artinya petani bisa mengolah tanah tanpa ada dorongan dari pihak mana pun.  Petani juga harus bisa membuat pupuk sendiri agar tidak tergantung dari pabrik besar penghasilan pupuk kimia.

Pupuk organik, kata dia, bisa memanfaatkan kotoran ayam, sapi, bisa dijadikan pupuk organik serta dengan pengolahan pola pertanian yang bagus. Dengan cara Tanah sawah dilakukan pencakulan atau dibajak itu bisa dibajak untuk mengubah struktur tanah dengan tambahan disiram dengan propunic untuk per hektare minimal 3-5 liter degan merata pada lahan, dan biarkan selama 2 hari.

Terakhir Sarno mengatakan lahan pertanian di Jawa Tengah banyak terkontaminasi dengan campuran pupuk berbahan kimiawi, tentunya perlu inovasi khusus agar peningkatan sektor pertanian berkembang dengan lebih baik. Lewat pemanfaatan teknologi yang pastinya ramah lingkungan, terlebih unsur tanah akan terjaga.(mentari/priyanto)

Info Lainnya

  • Laporan Mingguan Media Sosial DPRD Jawa Tengah

    Laporan ini menyajikan pemantauan komprehensif terkait aktivitas, pemberitaan, dan percakapan di media sosial yang melibatkan DPRD Jawa Tengah serta lembaga legislatif dan eksekutif terkait di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. PERIODE DATA 20 Juli 2026 – 26 Juli 2026 Ruang…

  • Laporan Mingguan Media Mainstream DPRD Jawa Tengah

    Monitoring komprehensif pemberitaan dari media online dan media cetak — mencakup analisis, sentimen publik, dan perkembangan isu terkini terkait DPRD Jawa Tengah PERIODE DATA 20 Juli 2026 – 26 Juli 2026 Ruang Lingkup dan Tujuan Pemantauan Ruang Lingkup Pemantauan Laporan…

  • Perlu, Penguatan Pengawasan Pesantren Ramah Perempuan & Anak

    JAKARTA – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pesantren menjadi alasan Komisi E DPRD Provinsi Jateng mendatangi Kantor Kementerian Agama RI, Kamis (23/7/2026). Langkah itu ditempuh untuk memastikan kebijakan perlindungan santri tidak berhenti pada regulasi tapi benar-benar berjalan efektif di setiap pesantren.

  • Destinasi Wisata Terintegrasi Potensi Alam Perlu Diperbanyak

    BANDUNG – Provinsi Jateng membutuhkan model pengelolaan destinasi wisata yang mampu mengintegrasikan potensi alam, masyarakat, dan investasi agar mampu bersaing dengan daerah lain. Untuk itu, Komisi B DPRD Provinsi Jateng memilih mempelajari pengelolaan Floating Market Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (23/7/2026), yang dinilai berhasil mengembangkan wisata berbasis perairan secara berkelanjutan