MEDIA TRADISIONAL: “Warok” Wonogiri Langgengkan Kesenian Reog

WhatsApp Image 2022 11 20 at 19.40.10

DIALOG BUDAYA: Anggota DPRD Jateng Ayuning Sekarsuci menjadi narasumber dalam dialog budaya di Kecamatan Girimarto, Wonogiri.(foto: tri nugrahini)

WONOGIRI – Kesenian reog tak hanya berkembang di daerah asal Ponorogo. Wonogiri pun sebagai daerah serumpun juga turut memiliki reog yang kesehor itu. Sebagaimana yang dipentaskan dalam acara Media Tradisional DPRD Provinsi Jawa Tengah, reog tampil dengan ciri khas “sangar”-nya. Pada kesempatan itu anggota DPRD Jateng Ayuning Sekarsuci hadir langsung sekaligus menjadi narasumber untuk mengulas kesenian reog.

Minggu (20/11/2022), di Desa Jendi, Kecamatan Girimarto, reog tampil secara memukau. Diungkapkan budayawan Wonogiri Bimo Putut Wahono, sebenarnya reog merupakan suatu bentuk tarian komunal dan dikemas sebagai pertunjukan sendratari. Terdiri atas penari topeng menyerupai harimau berukuran besar dengan hiasan bulu ekor merak (dadak merak) dan beberapa penari lain dengan kostum raja, panglima perang, kesatria, dan prajurit yang menunggang kuda.

Seni pertunjukan ini, lanjut dia, melibatkan beberapa penari yang memiliki peran dalam alur cerita yang dibawakan, seperti penari warok, jatil, bujangganong (pujanggaanom), kelanasewandana, dan barongan. Penari yang menjadi ikon dari pertunjukan Reog Ponorogo adalah pembarong yang menari sambil membawa dadak merak dengan cara digigit dengan mulutnya. Dadak merak merupakan alat peraga utama yang dihiasi dengan kepala menyerupai kepala harimau dan burung merak dengan bulu ekor merak sebagai hiasan yang sangat indah.

Ayuning turut menambahkan, berkembangnya reog di Wonogiri karena letaknya satu kawasan di Pegunungan Kapur dan memiliki tipe budaya yang sama dengan Ponorogo. Sekarang ini reog bisa dibilang tak hanya berkembang di Wonogiri dan Ponoroga saja. Semua daerah turut mengembangkan kesenian ini.

“Kesenian Reog Ponorogo merupakan asli budya Indonesia yang didaftarkan Unesco. Maka dari itu kita patut bangga dengan reog,”ucap anggota Komisi A itu.

Selanjutnya Bimo menegaskan pemerintah sedapat mungkin untuk terus membina serta mengembangkan kesenian ini. Tanpa ada dukungan pemerintah, kesenian lokal tidak bisa berkembang.

 “Bicara kebudayaan tidak lapas dari pemersatu dimana masyarakat bisa guyub rukun untuk bersama-sama melihat kesenian. Kebudayaan menjadi perekat antar masyarakat satu dengan yang lain ungkat pegiat seni,” ucapnya.(mentari/priyanto)

Berita Terkait

  • FUIS Sampaikan Aspirasi Ke DPRD

    GEDUNG BERLIAN – Puluhan massa yang mengatasnamakan Forum Umat Islam Semarang (FUIS) mendatangi Gedung Berlian guna melakukan audiensi terhadap DPRD Provinsi Jateng. Dalam audiensi yang diterima Anggota DPRD H. Romli Mubarok dan Abdul Hamid, mereka menyatakan dukungannya terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

  • Bertahun-tahun Demak Hadapi Problematika Banjir & Rob

    DEMAK – Komisi E DPRD Jawa Tengah terus memantau ke sejumlah daerah di Jateng terkait penanganan dan penanggulangan kebencanaan. Seperti di kawasan pesisir Demak, kerap terendam banjir dan rob. Masalah ini mengemuka dalam diskusi Komisi E dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak dan Provinsi.

  • Persoalan Aset, Komisi A Pantau SMKN 1 Plupuh Sragen

    SRAGEN – Dalam rangka monitoring dan evaluasi pemanfaatan aset milik Pemprov Jateng, Komisi A DPRD Provinsi Jateng berkunjung ke SMKN 1 Plupuh Sragen, baru-baru ini. Wakil Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Mulafi Fadli mengaku pihaknya ingin mengetahui aset milik pemprov.