JADI PEMBICARA : Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono (dua dari kanan) menjadi narasumber bersama Yuwanto PhD dan Agus Widianto di Skyview, Banaran, Tuntang, Kabupaten Semarang.(foto: sonidinata)
UNGARAN – Literasi media menjadi sebuah keharusan dan penyadaran yang harus dimiliki khalayak dalam mengakses media massa terutama mengenai isi pesan. Sayangnya upaya untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan itu sangatlah minim.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Ferry Wawan Cahyono mengakui adanya kelemahan dalam berliterasi. Terlebih di era perkembangan arus informasi yang cepat dan pesat, orang lebih mudah percaya dengan informasi yang diterimanya tanpa harus mengetahui validitas dan keakuratan isi.
“Saya punya pegalaman saat menemui konstituen di pedesaan. Di tempat yang jauh dari perkotaan, ada seorang petani memiliki pendapat bahwa di dalam vaksin ada chip untuk mengontrol dan mendeteksi orang. Dia mendapatkan informasi itu dari media. Media mana? Dia sendiri bilang dari telepon genggam. Ini membuktikan masalah literasi masih lemah,” ucapnya.

Penegasan tersebut diungkapkannya dalam dialog bertema “Meningkatkan Pendidikan Literasi Media”. Turut menjadi narasumber akademisi Undip Yuwanto PhD dan praktisi media Agus Widianto.
Yuwanto memberi penegasan masalah kemampuan literasi adalah hak asasi manusia untuk mendapatkan informasi yang dijamin oleh konstitusi termaktub dalam UUD 1945 amandemen II. Pada Pasal 28F disebutkan setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Agus Widianto yang akrab disapa Awu itu turut menyatakan, selain hanya memperoleh, menyimpan dan mengolah informasi perlu ada penekanan kemampuan berliterasi lain yakni mengkritisi. Sekarang ini begitu mudahnya orang memperoleh dan mengolah informasi tanpa harus cek dan ricek.
“Hoaks sudah banyak menyebar dan mengisi smartphone kita. Mulai dari gambar sampai percakapan bisa dengan mudahnya diolah sedemikian rupa menghasilkan informasi bisa menguntungkan dan merugikan. Presiden pun kerap dirugikan dengan informasi yang beredar,” ucapnya.
Lantas apa yang harus diperbuat? Sebagai akademisi, Yuwanto meminta pendidikan literasi semestinya sudah harus masuk kurikulum pendidikan formal mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi. Sampai sekarang ini belum ada kurikulum itu, adanya adalah kurikulum antikorupsi dan kewirausahaan.
Awu pun berharap Jawa Tengah bisa memelopori pendidikan literasi media termasuk bisa mengegolkan dalam kurikulum pendidikan formal. Semua kalangan, mulai dari gubernur, bupati/wali kota termasuk DPRD-nya harus memberikan penyadaran akan pentingnya literasi media bisa mengurangi kerancuan dan silang pendapat informasi serta memperkaya khasanah budaya bangsa.
Sebagai wakil rakyat, Ferry pun mengaku masalah literasi media turut menjadi tanggung jawabnya. Ia akan mendorong eksekutif dan mencari dukungan semua pihak guna meningkatkan literasi media di masyarakat.(cahyo/priyanto)








