Tenaga Pendidik Honorer Belum Dapatkan Upah Layak

20191217014906 IMG

SAMPAIKAN ASPIRASI : Puluhan tenaga pendidik honorer non kategori menyampaikan aspirasi kepada Komisi E.(foto: setyo herlambang)

GEDUNG BERLIAN – Puluhan tenaga pendidik honorer non kategori menyampaikan aspirasinya terkait  kesejahteraan yang belum sesuai dengan upah minimal kabupaten/kota di Jateng.

Tuntutan tersebut mengemuka dalam pertamuan mereka dengan Komisi E DPRD Jateng di ruang rapat komisi, Selasa (30/11/2021). Tak hanya upah, keinginan untuk diangkap menjadi PNS pun turut diungkapkan mereka.

Tergabung dalam  Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori (GTKHNK) 35+ (di atas umur 35 tahun), satu per satu dari mereka menyampaikan honorarium yang diterima setiap bulannya  belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketua Komisi E Abdul Hamid mengharapkan adanya audiensi tersebut bisa menjadi jembatan tenaga pendidik mendapatkan hak kesejahteraan sesuai dengan UMK.

“Kami akan terus mendorong apa saja yang diperlukan agar kesejahteraan tenaga pendidik sesuai dengan UMK kabupaten kota di Jateng,” terang legislator PKB.

Menanggapi, Ketua GTHNK 35+ Nanang Panggih Yulianto bersama tenaga pendidikan non guru sudah melakukan berbagai langkah agar kesejahteraan mereka bisa mendapat perhatian lebih. Di sisi lain, harapan untuk diangkat menjadi PNS juga disampaikan namun karena adanya pembatasan umur maksimal 35 tahun membuat mereka tidak bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

“Harapan besar, agar kesejahteraan kami bisa dapat diperhatikan mungkin bisa diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK),” harap dia.

Selanjutnya Sekretaris Komisi E, Sri Ruwiyati mengapresiasi perjuangan dan usulan tenaga pendidik honorer non guru. Dewan bersedia mendorong juga mengawal aspirasi para tenaga pendidik agar mendapatkan kesejahteraan setara dengan PNS, terutama pemerintah Kabupaten/Kota bisa memberikan UMK sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.

Senada anggota Komisi E, Muh Zen mendukung keputusan GTKHNK 35+ adalah hal sangat perlu diperjuangkan karena menyangkut kesejahteraan hidup para pegawai. Tenaga Pendidik honorer non guru memang tidak terlibat secara langsung proses belajar mengajar, namun sangat mempengaruhi fasilitas agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik terutama di bidang administratif.(tyo/priyanto)

Info Lainnya

  • Hadapi Kekeringan, Stok Air Bendungan Masih Aman

    JEPARA – DPRD Provinsi Jateng meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Nur Saadah menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menjamin kebutuhan air masyarakat, termasuk memastikan distribusi bantuan air bersih dilakukan tanpa membebani warga terdampak.

  • Warga Mojogedang Antusias Hijaukan Sungai

    KARANGANYAR – Warga Desa Ngadirejo Kecamatan Mojogedang merasa senang adanya kegiatan penanaman di sekitar bantaran sungai. Kegiatan yang dinamakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi’ digalakkan Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto bertujuan untuk menghijaukan area sekitar sungai supaya mengoptimalkan fungsi penyimpanan air sehingga keberadaan belik atau mata air ada lagi.

  • RAPAT PARIPURNA: Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal 

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (2/7/2026), Komisi E DPRD Provinsi Jateng memberikan penjelasan tentang Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal. Disampaikan oleh Anggota Komisi E, Jafar Shodiq, raperda itu didasarkan atas tingginya kontribusi tenaga kerja informal memberikan kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran.