JADI NARASUMBER. Ketua DPRD Jateng Dr Rukma Setyabudi menjadi narasumber dalam Wedangan TVRI Jateng, Rabu (31/7/2019).(Foto: Ayuandani)
DEMAK – Peredaran obat palsu masih sering ditemukan di Indonesia. Salah satu alasan masih beredar secara luas obat palsu karena kekurangsadaran dan ketidaktahuan masyarakat mengenai obat palsu. Hal inilah yang digunakan para produsen untuk memalsukan obat.

Demikian disampaikan Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi saat menjadi narasumber dalama acara Wedangan di Stasiun TVRI Jawa Tengah, Rabu (31/7/2019). Dia mengatakan, masyarakat masih kurang edukasi tentang obat palsu. Banyak yang tidak bisa membedakan obat palsu dengan asli.
“Termasuk saya, juga tidak bisa membedakan mana obat palsu dan asli. Hal-hal seperti inilah yang dipakai sebagai celah oleh para penjahat kejahatan pemalsuan obat. Hal ini sangat membahayakan, efek samping jangka panjang yang akan diterima masyarakat perlu pemerintah pikirkan,” ungkap legislator PDI Perjuangan itu.

Narasumber lain, Koordinator LP2K Jawa Tengah Ngargono menjelaskan selama ini kasus yang sering terjadi malah melibatkan distributor dan petugas apotek. Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam memilih obat, peran pemerintah juga sangat penting dalam mengawasi peredaran obat khususnya di Jawa Tengah.
“Mungkin harus ada UU tentang kejahatan di bidang farmasi, penguatan dari segi personil dan pengawasan juga sangat penting dilakukan. Mengingat banyak kasus yang melibatkan jaringan resmi, perusahaan yang punya izin usaha resmi justru yang punya akses untuk melakukan hal tersebut,” kata Ngargono.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo yang juga menjadi narasumber, mengatakan salah satu cara menghindari obat palsu adalah dengan menggunakan obat generik. Dengan manfaat dan kandungan yang sama obat generik dirasa sangat aman untuk digunakan. Yulianto menilai obat generik jarang bisa dipalsu karena merupakan subsidi dari pemerintah.
“Obat itu sama saja, jangan malu pakai obat generik karena harga nya murah. Murah itu karena ongkos riset dan distribusinya di subsidi pemerintah. Kasiat dan kegunaannya sama saja karena takaran dan bahannya juga sama. Mindset (pola pikir) masyarakat kita harus di ubah tentang obat generik,” kata Yulianto.
Mengakhiri pembicaraan, Rukma mengimbau kepada masyarakat untuk tidak malu menggunakan obat generik. Karena obat yang mahal belum tentu obat asli. Masyarakat juga harus tanggap jika mengetahui ada peredaran obat palsu di apotek sebaiknya langsung lapor ke polisi.
“Jangan gengsi pakai obat generik karena harganya yang murah. Daripada beli obat mahal-mahal kita gak tahu itu asli apa tidak mending pakai obat generik yang sudah pasti asli. Efek obat palsu sangat membahayakan dimasa yang akan datang,” kata Rukma.(ayuandani/priyanto)








