Berkembang, Produk Olahan Lele di Tegalrejo Boyolali

IMG

KOLAM LELE. Komisi B DPRD Provinsi Jateng saat memantau tempat produksi olahan Ikan Lele di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali, Selasa (25/7/2023). (foto priskilla candra cahyaningtyas)

BOYOLALI –  Perkembangan sektor UMKM di Jateng terus berkembang, salah satunya di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali, yang memiliki produk olahan dari Ikan Lele menjadi kripik dan abon. Perkembangan usaha itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Komisi B DPRD Provinsi Jateng untuk mengunjungi tempat pengolahannya.

Setibanya di lokasi produksi, Selasa (25/7/2023), rombongan Anggota Dewan bertemu dan berdiskusi dengan para pengelolanya. Sri Marnyuni selaku pimpinan rombongan mengatakan bahwa kondisi perkembangan usaha dapat menjadi contoh bagi warga di daerah lain guna meningkatkan pendapatannya melalui kelompok produksi.Senada, Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jateng Soleha dan Paramitha juga turut mengapresiasi aktivitas warga di Kampung Lele tersebut. Karena, warga masih semangat memproduksi olahan dari Ikan Lele itu.

“Sirip (Ikan Lele) bisa dimakan dan dijadikan lauk merupakan hal yang kreatif dan, bahkan, sampai dijadikan abon dari daging Lele itu sendiri. Itu sangat unik,” ungkap Soleha.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pemberdayaan Lele Desa Tegalrejo Tyas Panuntun menjelaskan produksi pengolahan makanan dari Bahan Ikan Lele itu dilakukan 3 hingga 4 kali dalam seminggu. Namun, hal itu juga tidak dapat menjadi patokan karena, jika ada pesanan dari distributor atau warga lainnya, kondisinya bisa membuat aktivitas produksi dilakukan setiap hari. 

“Bagi Warga Tegalrejo, Ikan Lele tidak hanya sebagai lauk ikan pada umumnya tapi Ikan Lele dapat diproduksi menjadi lauk sampingan atau cemilan. Misalnya di Desa Tegalrejo, mulai dari daging hingga sirip bisa dimanfaatkan menjadi kripik dan abon yang dapat didistribusikan ke seluruh Jateng. Usaha tersebut benar-benar membawa manfaat dan keuntungan bagi Warga Desa Kampung Lele. Karena, dengan menghasilkan Lele dalam jumlah ton per hari yaitu sekitar 5 hingga 10 ton per hari dalam satu kali panen,” jelas Tyas.

Pada hari sebelumnya, Komisi B DPRD Provinsi Jateng juga mengunjungi Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura milik Dinas Pertanian & Perkebunan Provinsi Jateng di Kota Surakarta. Disana, Komisi B memantau kinerja balai yang bisa membantu petani sekaligus bermanfaat bagi warga sekitar. (tyas/ariel

Berita Terkait

  • Jadi Lembaga Terbuka, Set. DPRD Jateng Raih KIP Award 2024

    SEMARANG – Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Tengah menorehkan prestasi dalam ajang Komisi Informasi Provinsi (KIP) Jateng Award Keterbukaan Informasi Publik 2024 di Patra Hotel Semarang, Senin (9/12/2024). Penghargaan itu merupakan puncak dari rangkaian monitoring dan evaluasi terhadap badan publik di Jawa Tengah yang dilakukan selama enam bulan terakhir.

  • Sumanto: Ayo, Dorong Kesejahteraan Petani

    GEDUNG BERLIAN – Bung Karno berpesan bahwa urusan pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Itu disampaikannya dalam pidato peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang sekarang bernama Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 27 April 1952 silam.

  • Kesbangpol & Rumah Sakit Jadi Materi Kunjungan Sumsel

    GEDUNG BERLIAN – Panita Khusus ( Pansus ) Perda tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah DPRD Sumatera Selatan melakukan kunjungan kerja ke DPRD Provinsi Jawa Tengah, Selasa (10/3/2020). Mereka ingin mencari masukan guna pengayaan materi perda yang tengah disusunnya.

  • Jateng Perlu Tiru Objek Wisata Tumpang Menoreh  

    YOGYAKARTA – Komisi B menyambangi salah satu destinasi wisata di Provinsi DI. Yogyakarta yakni Tumpeng Menoreh, Senin (1/7/2024). Tempat yang terletak di daerah Kulon Progo itu memiliki daya tarik tersendiri dengan wisata alamnya sehingga banyak wisatawan berkunjung kesana.