MEDIA TRADISIONAL: Uniknya Wayang Kulit Kolaborasi asli Karangrayung Grobogan

IMG 20220625 WA0054

HADIRI PENTAS. Sulistyorini dalam rangkaian acara ‘Dialog Media Tradisional (Metra) DPRD Provinsi Jateng’ di Kabupaten Grobogan (24/6/2022). (foto cahya can)

GROBOGAN – Wayang Kulit Kolaborasi yang terdiri dari campuran beberapa kesenian merupakan kesenian tradisional daerah Karangrayung Kabupaten Grobogan yang cukup unik. Kesenian Wayang Kulit Kolaborasi iru terdiri dari Jathilan, Barongan, Dagelan, dan Campursari, gabungan dari beberapa cerita, tarian, dan nyanyian.

Sajian itu digelar dalam rangkaian acara ‘Dialog Media Tradisional (Metra) DPRD Provinsi Jateng’ di Kabupaten Grobogan (24/6/2022). Dalam acara itu, Sulistyorini selaku Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng hadir sebagai pembicara.

Saat berdialog, ia menuturkan kesenian Wayang Kulit Kolaborasi tersebut cukup unik karena cerita yang diangkat bertema Pancasila. Meski tidak mengangkat kisah pewayangan, namun tidak keluar dari pakem cerita wayang.

“Kesenian tradisional itu adalah wadah atau rumah yang akan memperkaya khasanah Pancasila. Wayang hampir di seluruh daerah Indonesia mengenal, namun tiap-tiap daerah memiliki kekhasan sendiri, ini yang memperkaya kebinekaan kita,” kata Sulistyorini, yang asli dari daerah Paesan Godong.

Ki Hadi Purwanto selaku Dalang Wayang Kulit Kolaborasi mengatakan banyak lakon-lakon wayang yang bercerita tentang kepahlawanan seperti Babad Mahabarata dengan tokoh Pandawa yang memberikan contoh setia kepada negara. Kisah itu juga menceritakan persatuan dan kesatuan serta berhasil mempertahankan negaranya dari perang.

“Lakon Pandawa bisa memberikan contoh tentang pemerintahan negara yang berpihak kepada rakyat, tentang tingginya nilai kecintaan kepada bangsa dan negara, dan makna-makna lainnya yang bisa memberikan contoh untuk kita teladani,” kata Dalang Ki Hadi.

Sementara Ngadino, Kepala Disporabudpar Kabupaten Grobogan, yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan pihaknya tetap mengawal keberlangsungan kebudayaan kesenian di daerah Grobogan. Ia mengakui hampir 2 tahun pelaku kesenian terkena dampak pandemi tapi akhir-akhir ini mulai menggeliat lagi.

“Kami selaku pemerintah daerah sangat mendukung adanya kegiatan kesenian seperti ini dan kesenian wayang tersebut cukup bagus karena mudah diterima dan memberikan contoh-contoh kepahlawanan yang bagus,” tutur Ngadino. (anif/ariel)

Berita Terkait

  • MUSRENBANG VIRTUAL: Bahas Pembangunan Jateng 2022

    GUBERNURAN – Ketua DPRD Provinsi Jateng Bambang Kusriyanto didampingi Wakil Ketua DPRD Ferry Wawan dan Quatly Abdulkadir Alkatiri bersama Pimpinan Komisi mengikuti acara ‘Pembukaan Masa Musrenbang & Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD 2022’ secara virtual di Kantor Gubernur, Rabu (10/2/2022). Pimpinan Komisi yang hadir itu diantaranya Ketua Komisi A DPRD Mohammad Saleh, Sekretaris Komisi B Ngainirrichadl, Ketua Komisi C Bambang Haryanto, Ketua Komisi D Alwin Basri, dan Ketua Komisi E DPRD Abdul Hamid.

  • Komisi E Yakin Atlet Indonesia Mampu Berkiprah di Asean Para Games

    SURAKARTA – Perhelatan Asean Para Games ke XI yang diselenggarakan di Surakarta merupakan kebanggaan bagi masyarakat Surakarta secara khusus dan Jawa Tengah secara umum. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah Abdul Hamid usai menyaksikan opening ceremony Asean Para Games 2022 di Stadion Manahan Kota Surakarta, Sabtu (30/7/2022).

  • Bahas Regulasi ‘Smart Province’, Dewan Studi Banding ke Jabar

    BANDUNG – Cepatnya perkembangan teknologi saat ini menuntut pemerintah daerah harus semakin cepat dalam upaya peningkatan pelayanan publik. Untuk itu, Komisi A DPRD Jateng melakukan studi banding ke Kantor Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jabar, Selasa (2/7/2019), membahas soal Provinsi Cerdas, Aplikasi dan Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi.

  • Cadangan Beras Jateng Capai 876 Ribu Ton

    UNGARAN – Kondisi ketahanan pangan di Jateng sampai Maret 2021 masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Cadangan beras mencapai 876.812 ton, sementara stabilitas komoditas kedelai bisa terkendali. Namun permasalahan arus bawah sektor pertanian dan peternakan harus diselesaikan karena belum mengalami kemajuan yang signifikan, di antaranya masih adanya petani yang kesulitan mendapatkan pupuk.