DIALOG PARLEMEN : Anggota Komisi A Dwi Yasmanto mengisi acara Dialog Parlemen di Studia Berlian TV.(foto:priyanto)
GEDUNG BERLIAN – Masyarakat Indonesia kaya akan akar budaya dalam penguatan spiritual. Dalam budaya pun mampu menggerakkan semua strata sosial untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Parlemen : Puasa sebagai Gerakan Sosial; Menjaga Keharmonisan dan Kerukunan Masyarakat” di Studio Berlian TV, Senin (19/4/2021).

Anggota Komisi A DPRD Jateng Dwi Yasmanto saat menjadi narasumber mengemukakan, puasa semestinya dapat menjadi suatu gerakan sosial apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan yang tidak hanya dalam fikih, namun juga makna yang terkandung di dalam puasa. Dia menganalogikan dalam berpuasa hanya diperbolehkan makan selepas terbenamnya matahari (buka) hingga sebelum terbit fajar (sahur). Dengan demikian ada jatah makan yang semestinya tiga kali sehari harus dipangkas menjadi satu hari. Sisanya ada jatah yang tidak dimakan, dan itulah porsi yang diberikan kepada yang membutuhkan.

Sementara budayawan dari Undip Dr Sukarjo Waluyo melihat dari perspektif budaya masyarakat. Riset dari sejarawan Anthony Reid, masyarakat Asia Tenggara merupakan orang yang makmur. Kondisi tersebut dilihat dari banyaknya acara atau upacara yang dihelat. Dalam acara itu pasti ada makan-makan.
Budaya Indonesia termasuk Jawa telah membuktikan itu. Menjelang datang bulan Puasa, sudah ada kenduren untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. Ini membuktikan gerakan sosial masyarakat sudah terbangun sejak lama dengan memiliki semangat berbagi dan saling memaafkan. Hal ini perlu dipelihara supaya anak cucu tetap menjaga spirit untuk berbagi dan saling memaafkan.(dewi/priyanto)








