Bangun Kewaspadaan Dini, Cegah Konflik Sosial

IMG

NARASUMBER : Wakil Ketua DPRD Heri Pudyatmoko menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan Badan Kesbangpol Jateng.(foto: soni dinata)

TEMANGGUNG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng sepakat kewaspadaan dini menjadi kunci untuk mencegah terjadinya konflik sosial. Peran aktif masyarakat harus selalu tumbuh supaya dapat memitigasi kerawanan konflik agar tidak muncul dan berkembang menjadi besar.

Wakil Ketua DPRD Heri Pudyatmoko mengingatkan kepada masyarakat untuk mencegah serta menanggulangi ancaman konflik sosial. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang rawan terjadi konflik sosial. Hal ini dikarenakan keberagaman masyarakat baik suku, agama dan ras yang ada di provinsi ini.

Hal tersebut diungkapkannya saat membuka acara “Peningkatakan Kapasitas Masyarakat Sipil dalam Penyelesaian Konflik Sosial” yang diselenggarakan Badan Kesatauan Kebangsaan Politik (Bankesbangpol) di Temanggung, belum lama ini. Turut menjadi pembicara lain dari anggota DPRD Jateng yakni KH Ahmad Fadlun, Isnaeni, dan Muhammad Ngainirichardl.

Secara geopolitik, Jateng, yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa sangat rawan terjadi persinggungan sosial baik yang melibatkan individu maupun kelompok. Belum bila ada sentimen mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antarkelompok (SARA). Karena itulah mencegah dan menanganai konflik sosial menjadi indikator utama dalam RPJMD.      

Kewaspadaan dini di wilayah Jateng berguna untuk mendorong terciptanya stabilitas keamanan dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan di daerah serta mengantisipasi berbagai bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

“Perlu adanya peningkatan kewaspadaan dini pemerintah daerah melalui pendeteksian dan pencegahan dini, serta penegakan hukum mengantisipasi konflik sosial,” ucap politikus senior Partai Gerindra.

Kondisi di Jateng pun menentukan stabilitas nasional. Karena itu menjaga stabilitas sangat penting untuk dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Sesuai amanat UU No 7/ 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, Pemerintah Daerah diharapkan untuk terus melaksanakan program penanganan konflik sosial, sebagai upaya antisipatif/pencegahan dari segala kemungkinan terjadinya konflik sosial di masyarakat.

Akhmad Fadlun menyoroti kelompok-kelompok yang lebih mengedepankan kepentingan kelompoknya. Intoleransi dan radikalisme patut menjadi kewaspadaan agar tidak menjadi penyulut terjadinya konflik sosial. Pun dengan politikus PPP Ngainirichadl, peran aktif dalam keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan terutama dalam kewaspadaan dini. Lembaga-lembaga dibawah seperti RT, RW, LPMK, kepala dusun, harus dioptimalkan guna meminimalisasi terjadinya konflik sosial.(cahya/priyanto)

Berita Terkait

  • MEDIA TRADISIONAL: Wayang, Warisan Budaya Jati Diri Masyarakat

    KARANGANYAR – Penonton begitu menikmati pertunjukan wayang dengan lakon “Pandawa Labuh” menceritakan kisah Pandawa yang terusir dari istananya karena intrik Sengkuni. Suasana hangat pertunjukan wayang itu dibawakan Ki Danang Manteb Sudarsono dalam rangkaian Dialog Parlemen Media Tradisional ‘Nguri-nguri Kebudayaan Karanganyar’ yang disiarkan secara live Radio RGM 107.00 di Sanggar Ki Bima Manteb Sudarsono, Karanganyar, Sabtu (19/3/2022).

  • RAPAT PARIPURNA VIRTUAL: Penandatangan Kesepakatan KUPA-PPAS 2020

    GEDUNG BERLIAN – Ketua DPRD Provinsi Jateng Bambang Kusriyanto membuka rapat paripurna, Senin (31/8/2020), dengan agenda tunggal penandatanganan nota kesepakatan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA – PPAS) Perubahan APBD Provinsi Jateng Tahun Anggaran 2020. Sebelum ditandatangani Pimpinan Dewan dan Gubernur Ganjar Pranowo, Bambang meminta Sekretaris DPRD (Sekwan) Provinsi Jateng Urip Sihabudin membacakan Rekomendasi Badan Anggaran.

  • Angka Kredit Macet BPR BKK Purwokerto & Cilacap Perlu Ditekan

    BANYUMAS – Dalam kegiatan monitoring BUMD bidang keuangan di Kabupaten Banyumas, Senin (8/5/2023), Komisi C DPRD Provinsi Jateng bertemu dengan PT. BPR BKK Purwokerto. Saat berdiskusi di ruang rapat, kinerja keuangan kedua BUMD itu menunjukkan peningkatan tapi rasio Non-Performing Loans (NPL/ kredit macet) perlu ditekan.