Perbankan Sehat Harus Mampu Menekan Kredit Macet

KREDIT MACET. Komisi C DPRD Provinsi Jateng berdiskusi soal kredit macet di Kantor Bank Jateng Cabang Temanggung, Selasa (28/7/2026). (foto choirul amin)
TEMANGGUNG โ Komisi C DPRD Provinsi Jateng menaruh perhatian serius terhadap kinerja Bank Jateng di tengah tantangan sektor perbankan. Melalui fungsi pengawasan, Komisi C mencermati adanya kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loans (NPL) di Kantor Cabang Temanggung dan Wonosobo.
Meski masih berada di bawah ambang batas 5% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren tersebut dinilai perlu diantisipasi agar tidak memengaruhi kesehatan perbankan daerah. Kegiatan monitoring yang berlangsung di Kantor Cabang Temanggung, Selasa (28/7/2026), itu dipimpin Ketua Komisi C DPRD Jateng Bambang Haryanto. Dalam pertemuan, turut hadir Kepala Divisi Perencanaan Strategis Bank Jateng Sudiono, Pemimpin Cabang Koordinator Magelang Dwi Andi Setiawan, dan Pemimpin Cabang Bank Jateng Temanggung Heru Purnomo.
Bambang mengatakan pengawasan terhadap rasio NPL menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan lembaga perbankan. Berdasarkan hasil pemantauan, NPL Bank Jateng Cabang Temanggung meningkat dari 0,34% pada Desember 2025 menjadi 0,73% pada semester I 2026.

“Memang masih jauh di bawah batas yang ditetapkan OJK tapi tren kenaikan ini harus menjadi perhatian bersama. Kami ingin mengetahui faktor penyebabnya agar bisa segera diantisipasi,” ujar Bambang.
Menurut dia tantangan yang dihadapi Bank Jateng juga mencerminkan kondisi industri perbankan secara umum. Selain menjaga kualitas kredit, perbankan saat ini juga menghadapi tantangan dalam menghimpun dana pihak ketiga serta mendorong penyaluran kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha agar tetap tumbuh.
Ia menjelaskan perbankan memiliki fungsi intermediasi yang sangat strategis yakni menghimpun dana masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan. Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas pembiayaan, dan penghimpunan dana menjadi kunci menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Komisi C juga mendorong jajaran Bank Jateng memperkuat inovasi dan kolaborasi dalam menghadapi dinamika ekonomi. Menurut Bambang, langkah tersebut diperlukan agar bank daerah mampu menjaga daya saing sekaligus meminimalkan risiko kredit bermasalah.
“Yang penting adalah bagaimana kolaborasi dan inovasi dari para pimpinan cabang untuk bisa keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi saat ini,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin Cabang Bank Jateng Temanggung Heru Purnomo mengungkapkan perlambatan sektor tembakau turut memengaruhi aktivitas ekonomi di wilayahnya. Kondisi tersebut dipicu melemahnya hasil penjualan tembakau, ditambah dalam tiga tahun terakhir salah satu perusahaan rokok besar tidak lagi menyerap hasil panen petani Temanggung.

RUMAH TANGGA
Monitoring juga dilaksanakan di Kantor Cabang Wonosobo, Rabu (29/7/2026). Disana, jajaran manajemen Bank Jateng Cabang Wonosobo menyebut penyaluran kredit terbesar masih berada pada sektor rumah tangga dengan nilai mencapai Rp797 miliar.
Setelah itu disusul sektor perdagangan besar dan eceran, pertanian, perburuhan, dan kehutanan. Sementara penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp168 miliar sebagai dukungan terhadap pembiayaan usaha produktif. Sementara rasio NPL naik dari 0,83% menjadi 0,86% pada periode yang sama.
“Kondisi sektor riil seperti itu perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kemampuan debitur saat memenuhi kewajiban kreditnya,” kata Bambang Haryanto. (ashar/red.)






