MEDIA TRADISIONAL: Jadikan Budaya Jawa Tetap Lestari

20220603185314 IMG

DIALOG BUDAYA: Anggota DPRD Jateng Arifin Mustofa bersama Disdikbud dan budayawan Kota Magelang mendiskusikan soal budaya daerah di Pendapa Wali Kota Magelang.(foto: azam addin)

MAGELANG – Sebagai wong Jawa Arifin Mustofa menyadari masuknya budaya asing perlu disaring agar budaya asli leluhur bisa tetap lestari. Sebagai anggota DPRD Jateng, dia menerangkan tingginya arus globalisasi di kalangan masyarakat dapat membuat jati diri bangsa semakin memudar.

Nilai dan norma yang tidak jarang bertentangan dengan nillai budaya dan norma masyarakat suatu bangsa dengan mudahnya masuk dan mempengaruhi seseorang hanya dengan kecanggihan smartphome atau komputer. Hal ini tentunya akan mengancam jati diri bangsa apabila tidak ditanggapi dengan serius.

Kekhawatiran itu disampaikannya saat berbincang bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang Papa Riyadi dan budayawan Sus Anggoro dalam acara Dialog Parlemen/Media Tradisional: Nguri-uri Kesenian Khas Kota Magelang di Pendapa Wali Kota Magelang, Jumat (3/6/2022), mementaskan ketoprak humor Cinde Laras: Kacang Lali Kulite.

Ia lantas mengungkapkan, nguri-uri budaya tidak hanya didiskusikan saja tetapi yang paling penting kesenian yang ada  perlu di tanggap dan dipentaskan sehingga kreatifitas para seniman bisa dinikmati oleh publik.

“Saat ini banyak budaya joget-joget yang sudah banyak ditiru anak-anak muda, mereka lupa dengan budaya negaranya sendiri dan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai kebudayaan bangsa,” kata politikus PKS itu.

Selaku instansi yang menaungi kebudayaan, Papa Riyadi mengatakan melestarikan kebudayaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja namun masyarakat dan orangtua juga penting perannya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai program pelestarian budaya yang dimasukan kedalam kurikulum pelajaran sekolah.

“Kami sebagai eksekutif juga ikut berperan dalam melestraikan budaya dengan cara memasukan budaya kedalam kurikulum sekolah salah satunya basa jawa. Itu sudah diatur dalam pergub dan perda Jawa Tengah,” kata Riyadi.

Sementara sebagai budayawan, Ki Sus Anggoro sangat mengapresiasi upaya DPRD Jateng yang mulai berperan dalam pelestarian kesenian yang sudah mulai pudar. Anggoro berharap kegiatan ini bisa terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian wakil rakyat kepada seniman-seniman Jawa Tengah yang mulai tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi.(ayu/priyanto)

Berita Terkait

  • PRIME TOPIC: Menggali dan Meningkatkan PAD

    SEMARANG – Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi penopang utama pendapatan Provinsi Jateng yang kini porsinya mencapai 55%. Untuk itu, PAD harus digenjot lagi agar kenaikan pertumbuhan ekonomi 7% yang dicanangkan pemerintah pusat bisa terwujud.

  • BPTP Perlu Majukan UPT Pertanian Daerah

    UNGARAN – Belakangan ini penguatan produksi pertanian lokal di Jawa Tengah begitu diminati kalangan masyarakat dengan banyaknya pemesanan bibit tanaman. Inilah yang mendorong jajaran Komisi B DPRD Jateng bertandang ke Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian Jateng Kementerian Pertanian di Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (27/05/2021).

  • Netralitas ASN di Sukoharjo Jadi Perhatian Serius

    SUKOHARJO – Menghadapi pemilu serentak pada 17 April 2019, Komisi A DPRD Jateng meminta bawaslu lebih menggenjot upaya pengawasannya. Seperti disampaikan Anggota Komisi A DPRD Jateng Sriyanto Saputro di Kantor Bawaslu Kabupaten Sukoharjo, Selasa (9/4/2019), upaya pengawasan tidak hanya praktik money politics (politik uang) tapi juga persoalan netralitas aparatur sipil negara (ASN).