DISKUSI KESENIAN: Ketua Komisi E Abdul Hamid bersama narasumber menggelar diskusi dalam acara Media Tradisional Nguri-uri Kebudayaan di Gedung Serbaguna Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen.(foto: tri nugrahini)
KAJEN – Tari Petik Kopi, Tari Sintren dipentaskan. Inilah tarian yang menjadi khas dari Kabupaten Pekalongan. Kedua tarian itu dipentaskan dalam acara Media Tradisional Nguri-uri Kebudayaan di Gedung Serbaguna Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Minggu (11/12/2022). Ketua Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid menjadi narasumber bersama Kepala Dinas Kebudayaan Saifuh Bahri dan Mahmud Mansyur, budayawan setempat.

Mansyur menyampaikan Kabupaten Pekalongan sebenarnya menyimpan banyak kesenian lokal yang perlu dikembangkan.
“Tari Petik Kopi, Tari Sintren, menjadi bagian contoh kekayaan kesenian lokal Kabupaten Pekalongan. Tari petik kopi menggambrkan keanekaragaman kopi di Indonesia. Tari Sintren diambil dari kisah kasih asmara antara seorang gadis bernama Sulasih dengan Raden Sulandono yang tidak direstui oleh kedua orang tuanya,” ucapnya.
Ia pun berharap guna pengembangan kesenian ke depan perlu dukungan dari pemerintah supaya kesenian kebudayaan Kabupaten Pekalongan bisa dikenal lebih luas dan nilai budaya tidak luntur.

Abdul Hamid selaku Ketua Komisi E DPRD Jateng mengaku apresiatif dengan upaya para seniman yang masih menjaga kesenian lokal. Bahkan saat pandemi Covid-19 pun, para seniman masih tetap berkarya meski dengan cara virtual.
“Sebenarnya berkesenian tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dengan virtual pun justru semakin meluaskan pengenalan kesenian lokal. Sekali diunggahkan ke kanal-kanal linimassa seperti Youtube, Facebook, kesenian lokal bisa mendunia,” ucapnya.
Hamid berpesan, agar para seniman bisa berkreasi dengan mengemas kegiatan supaya konten bisa dilihat dengan apik. Menambahkan, Saiful Bahri mengaku kegiatan berkesenian untuk mengangkat budaya daerah memerlukan sinergi semua kalangan. Dukungan itu juga termasuk lewat pendanaan bagi beberapa kelompok kesenian untuk mengembangkan penampilan seninya agar tidak monoton.(mentari/priyanto)








