SENI BUDAYA. Quatly Abdulkadir Alkatiri dalam gelaran Dialog Metra di Balai Pendopo Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta, Minggu (7/8/2022), membahas pelestarian budaya lokal. (foto cahya dwi prabowo)
SURAKARTA – Pembentukan karakter anak bangsa melalui kesenian dan kebudayaan bisa menjadi salah satu faktor anak-anak mencintai seni dan budaya tradisional. Pengajaran seni dan budaya di sekolah menjadi salah satu upaya mengenalkan kesenian tradisional agar anak-anak tidak hanya mencintai tapi juga menjadi pelaku dalam menjaga tradisi kesenian.
Karena, hubungan antara sekolah seni, pembentukan karakter anak, dengan upaya melestarikan kesenian tradisional sangat erat dan harus menjadi kesatuan yang utuh. Demikian dikatakan Quatly Abdulkadir Alkatiri, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng, dalam gelaran Dialog Media Tradisional (Metra) di Balai Pendopo Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Quatly mengatakan ditengah maraknya pengaruh budaya luar yang mudah diterima kaum milenial, pengenalan kesenian saat ini bisa jadi menjadi hal yang langka. Karena, dia mengapresiasi apabila ada sekolah yang secara khusus mengajarkan kurikulum kesenian tradisional.
“Kami selalu mengupayakan agar anak-anak bisa kenal dan belajar kesenian tradisional di sekolah. Maka, ini menjadi kajian kami untuk berupaya mensinergikan berbagai kegiatan di Jateng dalam rangka pelestarian budaya. Harus kita masukan ini semua di dalam kurikulum sekolah sebagai tanda bahwa kita punya konsen untuk melestarikan budaya,” kata Politikus PKS itu.

Sependapat dengan Quatly, Gusti Puger yang juga hadir menjadi pembicara dalam acara tersebut menambahkan kesenian tradisional memang harus dikenalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Dan, sekolah sebagai tempat anak-anak menimba ilmu bisa menjadi sarananya.
“Saya sebagai keluarga keraton yang dibesarkan dengan tata cara budaya adat Jawa yang kental mungkin sudah terbiasa tapi tidak dengan anak-anak sekarang ini. Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah di Solo ini, saya sangat mendukungnya karena ada seni karawitan, tari, gamelan, dan lainnya sehingga dapat mendukung Solo menjadi pusat budaya Jawa,” terang Gusti Puger.

Narasumber lain, Farida Kurniati selaku Kepala SMP Ksatrian Kota Surakarta juga setuju dengan yang diutarakan kedua narasumber tersebut. Ia menjelaskan sekolah dengan muatan lokal seperti tari dan karawitan memang perlu dukungan dari banyak pihak karena ada kurikulum untuk belajar seni dan juga membina karakter anak agar mau mengenal dan mencintai budaya tradisional.
“Kami tetep berupaya di SMP ini mengajarkan kesenian tradisional agar tetep lestari. Dan, lulusan kami menjadi budayawan dan entertainer memang ciri khas dari sekolah kami yang dari dahulu fokus seni budaya. Memang, muatan lokal karawitan dan seni tari itu didirikan dari pertama pembentukan SMP Ksatrian. Kesenian budaya Jawa itu diharapkan membentuk karakter anak bangsa yang bisa memberikan contoh dan teladan,” terang Farida.
Acara dialog itu juga digelar pementasan seni dari siswa siswi SMP Ksatrian Kota Surakarta. Pementasan berupa Tari Eko Pawiro dan gending gamelan karawitan. (cahyo/ariel)








