SERAHKAN LAKON: Anggota DPRD Jateng Ahmad Ridwan menyerahkan wayang golek kepada Ki Wahyudin untuk menandai pergelaran wayang di Lapangan Dukuh Canan, Batang.(foto: hini trinugrahini)
BATANG – Warga Desa Kenconorejo, Kecamatan Tulis, begitu antusias memadati lapangan Dukuh Canan. Mereka ingin melihat pergelaran wayang golek yang hampir dua tahun terakhir ini tak bisa tampil karena terkendala pandemi Covid-19.

Senin (23/5/2022), sejak pukul 19.00, warga mulai berduyun-duyun datang ke lapangan. Kehausan akan pergelaran wayang sirna dengan digelarnya wayang golek dengan lakon “Golek Wahyu Sekar Kedhaton”. Acara wayangan itu merupakan kegiatan Media Tradisional (Metra) : Nguri-uri Budaya Khas Batang milik Sekretariat DPRD Jateng.

Sebelum pakeliran wayang dimulai terlebih dulu diadakan dialog dengan menghadirkan narasumber anggota DPRD Jateng Ahmad Ridwan serta dalang Ki Wahyudin. Sebagai anggota dewan yang berangkat dari daerah pemilihan (dapil Batang, Pemalang, Kabupaten/Kota Pekalongan), ia mendukung sekali upaya pelestarian kesenian budaya lokal. Wayang golek yang dipentaskannya itu, termasuk salah satu yang harus dipertahankan keberadaannya.
“Kesenian ini jangan pudar apalagi hilang. Kita jangan sampai lengah, kita harus nguri-uri budaya kita agar tidak dicuri dan dimiliki negara lain,” ucap politikus PDIP.
Ki Dalang Wahyudin, menjelaskan secara singkat ciri khas Wayang Cupak, bahwa tokoh wayangnya bisa digunakan untuk beberapa tokoh, sedangkan wayang kulit hanya untuk satu tokoh saja. Dalam cerita lakon wayang golek itu bisa mengangkat tokoh siapa pun. Pergelaran wayang ini menampilkan 10 tokoh, di antaranya tokoh Prabu Brawijaya, anak- anaknya harus bisa mewarisi tahta kerajaan, keturunan Raja Blambangan bisa menjadi Raja Majapahit.(anif/priyanto)








