SOAL PETANI. Sarno dalam Dialog TV di Hotel Front One, Ngemplak Kabupaten Boyolali, Senin (22/7/2024), membahas soal kesejahteraan petani. (foto evira)
BOYOLALI – Sampai sekarang, masih banyak kehidupan petani yang belum sejahtera. Kondisi itu sering ditemui Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jateng Sarno di beberapa daerah.
Dari pertemuannya dengan para petani itu, banyak yang mengeluhkan soal hasil panen dan tingginya biaya produksi. Hal tersebut diungkapkannya dalam acara Dialog TV di Hotel Front One Airport Solo, Ngemplak Kabupaten Boyolali, Senin (22/7/2024).
Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan Komisi B sangat concern terhadap permasalahan yang dihadapi petani selama ini. Untuk itu, Komisi B mendorong pemprov melalui dinas teknisnya memberikan bantuan yang bermanfaat bagi para petani.

“Kami dari Komisi B sangat konsen kepada petani. Banyak sekali bantuan yang kami gelontorkan seperti alat pembajak, alat-alat pertanian lah, subsidi pupuk, sudah banyak,” kata Politikus PDI Perjuangan itu.
Namun sayangnya, masih terkendala pula dengan SDM untuk sektor pertanian. Ia mengakui selama ini petani-petani muda yang milenial hanya menjual produk yang sudah jadi atau hasil panen tapi untuk penggarapannya masih dilakukan oleh petani-petani tua.
“Semoga saya berdoa terus untuk pemuda-pemuda Indonesia agar ada yang mau meneruskan ilmu-ilmu bertani dari orang tua terdahulu, terkait dalam hal pertanian,” harapnya.

Narasumber lain dalam dialog itu, Supriyanto selaku Kepala Distanbun Provinsi Jateng mengaku sudah banyak progam untuk memaksimalkan kesejahteraan petani. Salah satunya asuransi petani, bermanfaat bagi petani yang gagal panen karena hama, air, dan lainnya.
“Kami lakukan yang tidak kalah pentingnya dari sisi teknis yakni panen raya itu jangan hanya pada satu titik pada Juli. Kami akan mendorong teman-teman petani untuk bisa terus menanam supaya defisit pangan juga terus terisi, dengan masa tanam di wilayah-wilayah tertentu,” kata Supriyanto.
Narasumber dari kalangan petani, Sukamto selaku ketua kelompok tani juga memberikan pendapatnya. Ia mengakui selama ini pemerintah terus berusaha meningkatkan kesejahteraan petani.
“Dengan berbagai program. saya apresiasi kinerja pemerintah. Namun, pada Mei ke atas sampai bulan ke-10 harapan kami harga bisa naik tinggi karena air sudah mulai berkurang dan biaya produksi juga tinggi. Kami juga sudah semaksimal mungkin namun biaya produksinya masih tinggi disamping curah hujan juga berkurang, belum lagi pupuknya yang mahal. Nah, itulah yang menjadi kendala bagi kami,” jelas Sukamto. (evi/ariel)








