SOAL SOSIAL. Komisi E DPRD Provinsi berdiskusi dengan Pemkab Sleman, Jumat (6/2/2026), membahas soal penanganan masalah sosial. (foto bintari setyawati)
SLEMAN – Masalah sosial selalu ada di tengah masyarakat. Untuk itu, semua pihak secara bersama-sama perlu terus mengupayakan penanganannya.
Dalam hal ini, Komisi E DPRD Provinsi Jateng berdiskusi dengan Pemkab Sleman, Jumat (6/2/2026). Tujuannya, kata Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng Messy Widiastuti, melihat penanganan masalah sosial yang telah dilakukan secara kreatif dan inovatif.
Pada kesempatan itu, Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman Sri Budiyantiningsih mengungkapkan tantangan besar pada awal 2026 yakni angka perceraian sudah mencapai 1.000 kasus dan tingginya angka pernikahan dini akibat kehamilan di luar nikah. Salah satu sorotan utama adalah fenomena fatherless atau minimnya peran ayah yang berdampak pada psikologis anak.

“Untuk itu, diluncurkan inovasi Mobil Perlindungan (Simolin) yang menjangkau sekolah dan desa untuk memberikan layanan konseling gratis. Selain itu, mulai 2026, Sleman memperkuat benteng pertahanan mental masyarakat dengan menyediakan tenaga psikolog di setiap puskesmas guna menekan angka depresi dan risiko bunuh diri,” jelas Sri.
Mendengarnya, Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jateng Ida Nurul Farida dan Kriseptiana mengatakan inovasi ‘Simolin’ menjemput bola ke masyarakat sangat baik. “Hampir sama dengan Jateng, hanya saja masih dominan digunakan untuk penjemputan korban KDRT,” kata Ida.
Anggota Komisi E lainnya, Sumarwati, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah proaktif tersebut. “Jateng juga memiliki perhatian serupa melalui gerakan ‘Ayah Mengambil Rapot’ untuk mendorong keterlibatan figur bapak dalam pendidikan anak,” ujar Sumarwati. (bee/ariel)









