HADIRI PENTAS. Sulistyorini dalam rangkaian acara ‘Dialog Media Tradisional (Metra) DPRD Provinsi Jateng’ di Kabupaten Grobogan (24/6/2022). (foto cahya can)
GROBOGAN – Wayang Kulit Kolaborasi yang terdiri dari campuran beberapa kesenian merupakan kesenian tradisional daerah Karangrayung Kabupaten Grobogan yang cukup unik. Kesenian Wayang Kulit Kolaborasi iru terdiri dari Jathilan, Barongan, Dagelan, dan Campursari, gabungan dari beberapa cerita, tarian, dan nyanyian.
Sajian itu digelar dalam rangkaian acara ‘Dialog Media Tradisional (Metra) DPRD Provinsi Jateng’ di Kabupaten Grobogan (24/6/2022). Dalam acara itu, Sulistyorini selaku Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng hadir sebagai pembicara.

Saat berdialog, ia menuturkan kesenian Wayang Kulit Kolaborasi tersebut cukup unik karena cerita yang diangkat bertema Pancasila. Meski tidak mengangkat kisah pewayangan, namun tidak keluar dari pakem cerita wayang.
“Kesenian tradisional itu adalah wadah atau rumah yang akan memperkaya khasanah Pancasila. Wayang hampir di seluruh daerah Indonesia mengenal, namun tiap-tiap daerah memiliki kekhasan sendiri, ini yang memperkaya kebinekaan kita,” kata Sulistyorini, yang asli dari daerah Paesan Godong.

Ki Hadi Purwanto selaku Dalang Wayang Kulit Kolaborasi mengatakan banyak lakon-lakon wayang yang bercerita tentang kepahlawanan seperti Babad Mahabarata dengan tokoh Pandawa yang memberikan contoh setia kepada negara. Kisah itu juga menceritakan persatuan dan kesatuan serta berhasil mempertahankan negaranya dari perang.
“Lakon Pandawa bisa memberikan contoh tentang pemerintahan negara yang berpihak kepada rakyat, tentang tingginya nilai kecintaan kepada bangsa dan negara, dan makna-makna lainnya yang bisa memberikan contoh untuk kita teladani,” kata Dalang Ki Hadi.

Sementara Ngadino, Kepala Disporabudpar Kabupaten Grobogan, yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan pihaknya tetap mengawal keberlangsungan kebudayaan kesenian di daerah Grobogan. Ia mengakui hampir 2 tahun pelaku kesenian terkena dampak pandemi tapi akhir-akhir ini mulai menggeliat lagi.
“Kami selaku pemerintah daerah sangat mendukung adanya kegiatan kesenian seperti ini dan kesenian wayang tersebut cukup bagus karena mudah diterima dan memberikan contoh-contoh kepahlawanan yang bagus,” tutur Ngadino. (anif/ariel)









