KUNJUNGAN KERJA : Wakil Ketua Komisi E Abdul Aziz memberi penjelasan mengenai kunjungan kerja ke usaha pengalengan makanan tradisional gudeg “Bu Tjitro” di Sleman, Yogyakarta.(foto: hini trinugrahini)
YOGYAKARTA – Usaha pengalengan makanan menjadi salah satu solusi supaya makanan tahan lama. Terlebih bila yang dikalengkan merupakan makanan tradisional, tentunya orang akan praktis membeli maupun membawanya setiap saat.

Usaha pengalengan makan sudah lama dirintis oleh CV Buana Citra Sentosa. Perusahaan itu memasarkan makanan tradisional khas Yogyakarta yakni gudeg dengan merek Bu Tjitro. Komisi E DPRD Jateng pun dalam kunjungan ke usaha pengepakan itu, Rabu (13/12/2023), sepakat agar makanan tradisional bisa lebih meluas dipasarkan perlu cara supaya makanan awet, tidak mudah busuk, dan tentu saja aman dikonsumsi.
Dalam kunjungan langsung ke pabriknya di Kabupaten Sleman itu, rombongan Komisi E diterima Burhanul Akbar selaku pemilik usaha Gudeq Bu Tjitro. Pada kesempatan itu, rombongan dewan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi E Abdul Aziz, melihat langsung proses pengalengan makanan gudeg.
“Kami dari CV Buana Citra Sentosa selaku usaha pengalengan Gudeg Bu Tjitro merupakan perusahaan industri pangan yang pertama kali mengembangkan makanan tradisional,” jelas Burhanul.
Perusahaan ini mampu menghasilkan gudeg kaleng dengan umur simpan selama 12 bulan. Hal ini dikarenakan adanya proses pengalengan dengan suhu tinggi dan kondisi hermatis dengan kadar standar yang telah ditetapkan oleh industri.
Proses pengalengan terdiri dari sterilisasi kaleng kosong, pengisian dan penimbangan, exhausting (penghampaan udara ), penutupan kaleng, sterilisasi, pendinginan, karantina produk, pelabelan, dan packaging. Saat ini jumlah produksi gudeg kaleng tersebut mencapai 500 kaleng per hari.
”Permintaan gudeg kaleng untuk ke Amerika Serikat itu mencapai sekitar 1.000 kaleng per tahun, cara pemasaran kami dengan memasukkan ke swalayan-swalayan di sana.”
Produk-produk tersebut dijual dalam kemasan kaleng ukuran 175 gram dan 300 gram. Kemasan 175 gram dijual Rp 25.000-Rp 30.000 per kaleng, sedangkan kemasan 300 gram dijual Rp 40.000-Rp 50.000 per kaleng.
Abdul Aziz merasa kagum dan mengapresiasi pengolahan gudeg kaleng Bu Tjitro ini karena sudah sampai ke mancanegara.(hini/priyanto)








