MEMBAUR DIRI : Anggota DPRD Jateng St Sukirno membaur bersama masyarakat dalam pementasan jatilan di Dukuh Gondang, Klaten.(foto: teguh prasetyo)
KLATEN – Senyum bahagia terlihat di raut wajah Stephanus Sukirno, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jateng VII saat ikut acara mancing bersama masyarakat Dukuh Pengkol, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, Minggu (7/1/2024).

“Selain dapat berinteraksi bersama warga sini, acara ini cukup bermanfaat sekali. Pasalnya untuk menambahkan kebersamaan, sikap kegotong-royongan, dan persatuan. Semua warga Dukuh Pengkol ikut semua, kebersamaan ini untuk memperkuat persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.
Sukirno sangat bersyukur, acara tersebut dapat digelar secara rutin bersama warga setempat. “Hal baik ini semoga dapat berjalan terus, sehingga semangat warga yang sudah baik ini, dapat terus dilestarikan,” kata Politikus PDI-P itu.

Usai acara tersebut, Sukirno mendatangi Omah Wayang di Dukuh Jombor, Desa Danguran. Tak hanya sekadar bangunan atau tempat pertunjukan. Omah Wayang Klaten merupakan tempat kesenian paling komplit tentang nilai kebudayaan.
“Di sini tak hanya merupakan destinasi wisata budaya, tetapi juga memainkan peran penting dalam mendukung seni wayang kulit daerah,” ungkapnya.
Dalam kegiatan sehari-hari, tidak hanya digunakan untuk seminar dan pelatihan, tempat ini difungsikan untuk melestarikan seni tradisional dan mengajarkannya kepada generasi muda. Masyarakat setempat ikut dilibatkan untuk menjadi pusat kegiatan yang memupuk cinta dan pemahaman terhadap seni wayang kulit.
“Hal yang perlu diperhatikan dalam kesenian adalah pelestarian seni atau budaya itu sendiri. Tanpa adanya regenerasi, kesenian dan kebudayaan beragam yang bangsa miliki bisa tergerus oleh kemajuan zaman. Melalui Omah Wayang ini, kami berusaha supaya seni dan budaya itu selalu ada untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa kita,” tegasnya.
Di sini, lanjut Sukirno, “proses pembelajaran pengenalan kesenian dan kebudayaan dimulai sejak dini, bisa dilihat juga dari anak usia 3 tahun sudah belajar menari, ada juga yang mendalang, nyinden dan lain sebagainya.”

Pada lokasi berikutnya, Sukirno menyempatkan berkunjung ke Dukuh Gondang. Di tempat itu sedang berlangsung kesenian Jatilan. Pada umumnya kesenian tersebut dikenal dengan sebutan kuda lumping, jaran kepang atau kuda kepang.
Ditinjau dari sisi asal usulnya, kesenian Jatilan merupakan gambaran era peperangan Jawa. Dalam kesenian itu, masyarakat yang mendukung perjuangan menggunakan properti kuda tiruan yang terbuat dari bambu. Tujuan dari pementasan tersebut sebagai sarana hiburan untuk menyatukan rakyat dalam melawan penindasan.
Dalam suatu pergelaran, penari menggunakan pedang lalu menyayatkan pada lengan. Atraksi tersebut merupakan gambaran bahwa masyarakat juga memiliki kekuatan untuk melawan para penjajah.
“Kesenian Jatilan selain untuk menghibur warga desa-desa kecil, juga bentuk sarana untuk pelestarian budaya juga. Terbukti banyak para anak kecil sedang asyik menyaksikan pertunjukan ini. Harapannya pagelaran ini dapat digelar secara rutin, selain untuk pelestarian budaya, sektor lain seperti perekonomian masyarakat kecil juga terangkat,” tutupnya.(amin/priyanto)








