CENDERA MATA : Anggota DPRD Akhmad Fadlun terima cendera mata usai mengisi acara Media Tradisional Nguri-nguri Seni Budaya Tradisional Wonosobo.(foto:Cahyaning Ayu)
WONOSOBO – Hujan mengguyur Wringinanom, Senin (14/11/2022). Meski kondisi cuaca tak menentu, semangat warga untuk melihat pergelaran kesenian kuda kepang dan Tari Topeng tak surut.

Alunan kempung serta bonang menyemarakkan suasana malam di Kecamatan Kretek, Wonosobo itu. Sesekali bunyi cetar-ceter pecut dilecutkan. Sejumlah penari jaran kepang mulai berlanggak lenggok sambil membawa “kuda” yang terbuat dari anyaman bambu. Gemerincing gelang pada pergelangan kaki turut menyumbangkan suara harmoni.

Anggota DPRD Wonosobo Akhmad Fadlun SY bangga dengan semangat warga dalam berkesenian, meski mereka hanya menonton. Menurutnya Wringinanom sejak dulu kesohor sebagai markas kesenian kuda kepang dan tari topeng.
“Jadi kalau ada pertunjukkan kuda kepang, selalu penontonnya berjubel,” ucap anggota Komisi E itu mengawali kata pengantarnya dalam mengisi acara Media Tradisional Nguri-nguri Seni Budaya Tradisional Wonosobo.

Kesenian, lanjut dia, merupakan ekspresi jiwa yang dapat membuat fresh kembali. Namun demikian, ketika memilih untuk berkesenian, diharapkan tak perlu mengotak-kotak apalagi menganggap kesenian lainnya tidak bagus.
“Ayo lestarikan, uri-uri dan diuripi kesenian daerah,” pesannya.
Budayawan Wonosobo Slamet Suripto atau Ki Ripto mengungkapkan sebenarnya Tari Kuda Kepang diciptakan untuk penggambaran sosok prajurit yang gagah. Para penarinya kebanyakan pria. Seiring perkembangan zaman, perempuan pun diperbolehkan menari kuda kepang. “Seperti saat ini, sembilan penari perempuan yang lincah dan energik memainkan kuda kepang,” ungkapnya.(anif/priyanto)








