DIALOG BUDAYA. Mifta Reza Noto Prayitno dalam acara Dialog Media Tradisional (Metra) di Sanggar Kejeling Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal, Sabtu (19/3/2022) malam. (foto antonius george raynaldy eka bayu prakasa)
KENDAL – Dalam upaya nguri-uri kesenian tradisional asli Kabupaten Kendal, DPRD Provinsi Jateng menggelar Dialog Media Tradisional (Metra) di Sanggar Kejeling Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal, Sabtu (19/3/2022) malam. Dalam rangkaian acara itu, ditampilkan Pagelaran Kesenian Tradisional ‘Kethoprak Ampak-ampak Maliling’ yang menceritakan sejarah Desa Sidomulyo (dahulu Maliling) dengan lakon Prabu Tumenggung Wirowongso Wiroguno.

Diceritakan, Sang Prabu mampu mengusir maling/ rampok dan antek-antek Belanda. Alhasil, Desa Sidomulyo pun menjadi aman dan damai.
Dalam sesi dialog, Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jateng Mifta Reza Noto Prayitno mengemukakan bahwa kesenian tradisional itu perlu peran dari kaum muda. Terlebih selama pandemi Covid-19 ini, geliat seni dan budaya lokal seakan mati suri.

“Jangan pernah malu sama budayanya sendiri. Budaya kita itu tidak kalah keren dengan budaya lain. Ingat, bangsa ini pernah diperhitungkan bangsa lain karena budayanya,” ujar Politikus Gerindra itu.
Senada, Pembina Sanggar Seni Kejeling Sindhu Wongso mengungkapkan kesenian tradisional sekarang ini dalam keadaan ‘hidup segan mati tak mau.’ Diakuinya pula, minat kaum muda masih rendah untuk mempelajari kesenian tradisional karena dianggap sudah kuno, mengingat cepatnya perkembangan teknologi informasi sekarang ini.

“Adanya sanggar ini merupakan bentuk upaya untuk menarik pemuda pemudi khususnya di Kabupaten Kendal untuk mempelajari, melestarikan, dan menumbuhkembangkan kesenian tradisionalnya,” harap Sindhu.
Menambahkan, Murdowo selaku pemerhati budaya juga berpesan kepada masyarakat, terkhusus kaum muda, untuk tidak kehilangan semangat dalam menggelorakan kembali seni dan budaya lokalnya. ” Kaum muda, mari nguri-uri kabudayan, mari berinovasi, libatkan teknologi tanpa merubah intisari budaya,” tandas Murdowo. (jos/ariel)








