PANTAU KINERJA. Komisi C DPRD Jateng saat berkunjung ke PT BKK Jateng Cabang Demak, Rabu (14/9/2019), untuk memantau perkembangan kinerja perseroda tersebut. (foto sunu andhy purwanto)
DEMAK – Sekretaris Komisi C DPRD Jateng Tety Indarti meminta PT BKK Jateng (Perseroda) untuk dikelola lebih profesional. Tujuannya, kinerja dapat terus meningkat sehingga kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) bertambah tinggi.
“Ini impian kita beberapa tahun lalu dan saat ini sudah terealisasi. Oleh karena itu, harus dibuktikan hasil penggabungan (konsolidasi) 27 BKK ini dapat menghasilkan PAD yang lebih proporsional,” tutur Politikus Partai Demokrat itu, saat memimpin monitoring dan evaluasi di PT BKK Jateng Cabang Demak (dh PD BKK Dempet Demak), Rabu (14/8/2019).
Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Mifta Reza NP berharap pengelola kantor cabang Demak mampu memetakan masalah dan karakteristik pasar yang membuahkan kinerja terbaik untuk terus dikembangkan. “Mudah-mudahan ke depan bank ini semakin mendapat kepercayaan masyarakat, menarik lebih banyak nasabah, dengan begitu misi mengembangkan perekonomian sekitar dapat diimplementasikan. ‘Ngopeni’ yang kecil-kecil menuju volume yang lebih besar,” jelas Legislator dari Fraksi Partai Gerindra itu.
Anggota Komisi C Sidi Mawardi dari Fraksi Partai Golkar meminta penjelasan tentang konsekuensi atau akibat dari penggabungan BKK se-Jateng menjadi PT BKK Jateng (Perseroda). Terutama soal penataan SDM, penguatan pada penggalangan dana, dan antisipasi kredit bermasalah juga.
Menanggapi hal itu, Direktur Operasional PT BKK Jateng Drajat Adhitya Waldi mengaku saat ini memang ada beberapa kendala. Namun kini telah diselesaikan seperti gaji dengan bermacam tunjangan dan sudah dipangkas sesuai aturan baru. “Jadi, ada penyesuaian dan yang jelas terdapat penurunan pendapatan bagi karyawan staf ke bawah,” kata Drajat.

Soal kinerja, PT BKK Jateng Cabang Demak pada 2018 membukukan laba Rp 1,99 miliar. Namun, sejalan pembenahan paska penggabungan, sampai Juni lalu sempat merugi Rp 1,05 miliar dengan kredit bermasalah mencapai 10,5%.
“Kondisi tersebut sejalan rampungnya pembenahan dapat diperbaiki. Pada Juli, sudah mencatatkan laba Rp 335 juta dan rasio kredit bermasalah diturunkan pada level 1,01 persen,” tambah Manager Cabang Demak, Muhammad Fariq. (sunu/ariel)








