MUNGKID – Komisi E DPRD Jateng mendorong percepatan pengentasan kemiskinan yang ada di Kabupaten Magelang. Di Desa Purwosari, Dewan optimis dengan apa yang dilakukan pemerintah untuk memberi stimulan kepada warga niscaya masalah kemiskinan bisa teratasi.

Pada Rabu (30/7/2025), Komisi E melihat langsung realisasi bantuan dari pemerintah berupa ternak bisa dimanfaatkan oleh penerima. Dalam kunjungan itu, dia diterima Kepala Desa Purwosari, Hajar Budiyanto, beserta staf desa dan masyarakat setempat di Gedung Pertemuan.

Sekretaris Komisi E Zainuddin, menyampaikan bahwa tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk menggali informasi lebih dalam terkait kondisi pengangguran dan kemiskinan di desa.
Selanjutnya Hajar mengungkapkan bahwa desanya merupakan salah satu dari sembilan desa yang rencananya akan masuk dalam program graduasi PKH (Program Keluarga Harapan). Sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan, Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan ternak kepada masyarakat.
“Juga ada rencananya masyarakat Purwosari akan mendapatkan pelatihan kerajinan enceng gondok, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha baru bagi warga,” ucapnya.
Rina Nasution dari Disnaker Kabupaten Magelang melaporkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) telah mengalami penurunan dari 4,55% (2023) menjadi 3,5% (2024). Meskipun demikian, tingkat kemiskinan di wilayah ini masih tinggi, yaitu mencapai 10%.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Disnaker Kabupaten Magelang setiap tahun menggelar pelatihan dan pembinaan UMKM di level menengah, dan pada tahun depan juga akan diadakan job fair di berbagai kecamatan.

Dalam pertemuan itu terjalin diskusi perihal pencapaian penanganan kemiskinan dari strategi yang dilakukan pemerintah. Sebagaimana diungkapkan anggota Komisi E Arif Wahyudi. Sebagaimana data BPS menyebutkan lulusan SMK menjadi salah satu penyumbang pengangguran terbesar di Jawa Tengah.
“Masalah di setiap desa hampir serupa, yaitu bagaimana sinergitas antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Banyak jurusan yang tidak tercover dalam dunia kerja, ini harus kita cari solusinya bersama,” ujarnya.
Arge Dewanto dari Disnaker Jateng menambahkan bahwa meskipun TPT di Kabupaten Magelang sudah menurun, tantangan dalam pengentasan kemiskinan masih tetap ada. “Pada 2025, kami mendapat amanat dari Kemendagri untuk mendukung program Astacita, yang salah satunya adalah perluasan kesempatan kerja. Kami juga sedang melakukan pelatihan barbershop di Desa Candimulyo, Kecamatan Salaman, dengan harapan warga dapat berwiraswasta mandiri,” paparnya.
Henri Sunoto dari Dinas Sosial Jateng melaporkan bahwa mereka telah aktif melakukan pemberdayaan masyarakat, termasuk melakukan pelatihan kerajinan enceng gondok.
Sementara itu, Sunarto dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng menambahkan bahwa pihaknya telah memberikan fasilitasi pendidikan melalui jalur afirmasi untuk warga miskin. Aditya dari Bappeda Jateng juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai OPD terkait untuk merencanakan program pengentasan kemiskinan.
Ida Nurul Farida, anggota Komisi E lainnya, menekankan bahwa pengentasan kemiskinan akan lebih efektif jika seluruh lapisan pemerintah, mulai dari provinsi, kabupaten, kota, hingga desa, bersinergi secara serius. “Ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Perwakilan masyarakat Desa Purwosari, Lutfi, mengungkapkan bahwa mayoritas warga desa menggantungkan hidup mereka pada ternak kambing dan sapi. “Kami berharap bantuan KUBE (Kelompok Usaha Bersama) segera turun. Saat ini, pemuda di dusun kami mulai mengembangkan ternak mentok, meskipun terkendala oleh penyakit unggas. Kami juga sedang merambah ke budidaya belut,” ungkapnya.(agung/priyanto)








