Sukirman. (foto dewi sekarsari)
KAJEN – Pemahaman agama yang sempit berdampak pada menjamurnya paham radikalisme dan sikap intoleran yang ada di Indonesia. Melihat kondisi itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Sukirman menilai minimnya pemahaman yang benar terhadap agama di kalangan masyarakat menjadi salah satu faktor tumbuhnya paham dan sikap tersebut.

Demikian disampaikannya, saat menghadiri diskusi di Kantor Setda Kabupaten Pekalongan, Sabtu (13/3/2021). Dalam dialog itu, ia juga mengatakan hal penting dilakukan saat menghadapi persoalan tersebut yakni membuat ‘pagar’ dalam keluarga dan lingkungan mengenai tata cara pendidikan yang kuat mengenai agama, landasan moral, dan akhlak. Dengan begitu, paham-paham anti NKRI dan Pancasila bisa terbendung dalam kehidupan keluarga.
“Selain itu, peran pemerintah juga harus terlihat saat memperkuat basis ekonomi untuk mengurangi angka pengangguran serta kemiskinan. Karena, itu juga menjadi salah satu penyebab paham radikalisme bisa masuk ke masyarakat kita,” kata Politikus PKB itu didampingi Anggota Komisi D DPRD Agung Satria Hermawan dan Anggota Komisi B DPRD Sofwan Sumadi.

Pada era milenial sekarang, lanjut dia, pengaruh media sosial sangat besar membentuk mental anak muda. Karena, media sosial itu memuat banyak informasi, baik berita update maupun hoaks, yang seringkali tanpa disaring terlebih dahulu. Terlebih, perubahan pola pendidikan saat ini menggunakan media daring/ online sehingga tidak ada pergaulan dan interaksi langsung kepada guru, ulama, dan sesama siswa yang memudahkan paham radikalisme masuk ke dalam lingkungan sekitar.
“Kami sebagai Anggota DPRD akan mengawal kebijakan pemerintah dari segala arah, terutama arah penggunaan APBD yang benar untuk menggerakkan ekonomi Jateng agar tepat sasaran sehingga paham radikalisme bisa dibendung. Di bidang pendidikan, nilai keagamaan perlu diperkuat, termasuk memperkuat basis pendidikan NU, Muhammadiyah, dan paham nasionalisme,” ucapnya. (ayu/ariel)








