Sri Marnyuni. (foto setyo herlambang)
SRAGEN – Akses jalan tol, selain mempermudah percepatan arus transportasi, ternyata membawa dampak buruk terhadap pengawasan lalu lintas ternak keluar masuk ke Provinsi Jateng. Pasalnya, sekarang sudah sangat jarang truk pengangkut ternak yang mendatangi Pos Lalu Lintas Ternak (PLLT) untuk proses screening atau penyaringan secara ketat agar kualitas ternak tetap terjaga dan terhindar dari penyakit menular.
Untuk itu, Komisi B DPRD Provinsi Jateng memantau langsung kondisi PLLT Banaran Kabupaten Sragen, Selasa (9/3/2021), dalam rangka peningkatan kualitas SDM dan fasilitas memadai. Saat Komisi B berdiskusi dengan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jateng Lalu Muhammad Syafriadi, dikatakan bahwa PLLT mempunyai tugas utama sebagai barrier penyakit hewan ternak menular yang akan masuk di Jateng.

Selain itu, Lalu Muhammad juga mengatakan PLLT tersebut bisa menjadi tolok ukur komoditas penyuplai ternak, baik dari luar maupun dalam provinsi, karena potensi ternaknya bisa menjadi pendapatan unggulan. Saat ini, lanjut dia, kendala yang dihadapi PLLT Sragen adalah banyaknya truk pengangkut ternak langsung beralih menggunakan jalan tol.
“PLLT adalah garda barrier terdepan kami untuk menangkal dan mengurangi dampak penyakit hewan ternak menular sehingga konsumen tetap merasa aman. Namun, adanya jalan tol di titik Sragen membuat para pengemudi truk ternak beralih lewat sana sehingga pengawasan secara langsung sangat minim dan tidak ada. Kami juga sangat kekurangan tenaga SDM profesional seperti dokter hewan dan tenaga IT untuk memaksimalkan kinerja balai agar lebih maksimal. Karena, potensi pendapatan ternak sangat menjanjikan, apabila semua steril dan komoditasnya terdata dengan baik,” paparnya.

Melihat kondisi itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jateng Sri Maryuni mengakui peran PLLT sangat penting untuk menghambat penyakit hewan ternak menular dan penghitung komoditas ternak. Karena, ia menilai, bila ada ternak ditemukan membawa penyakit menular dan lolos dikonsumsi masyarakat, maka akan menjadi permasalahan serius.
Terlebih, tingkat konsumsi hewan ternak itu sangat tinggi. Disisi lain, kata dia, PLLT membantu pemerintah untuk memantau daerah mana saja sebagai konsumen dan penyuplai ternak di Jateng.
“Jika melihat lebih dalam, kinerja PLLT di bawah disnakkeswan sangat krusial karena disini adalah titik pengawas langsung hewan ternak yang akan keluar masuk dan steril laik konsumsi oleh masyarakat. Maka, diperlukan ada penambahan PLLT di rest area pintu masuk tol di titik perbatasan Jateng sebagai pengawasan perketatan proses screening hewan ternak,” terang Legislator PAN itu. (setyo/ariel)








