LIHAT KANDANG : Ketua Komisi C Bambang Haryanto bersama anggota melihat kandang budi daya kelinci pedaging di Bandungan, Kabupaten Semarang.(foto: setyo herlambang)
UNGARAN – Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor peternakan terus ditingkatkan. Manarik perhatian DPRD Jateng adalah budi daya kelinci pedaging. Dilihat dari respons pasar, ternyata daging kelinci mendapat tempat dan penjualannya dari tahun ke tahun ada peningkatan. Budi daya tersebut menjadi salah satu sektor yang patut diperhitungkan pada saat pandemi Covid-19 ini.

Apresiasi disampaikan langsung oleh Komisi C yang membidangi pendapatan daerah saat meninjau langsung lokasi Taman Ternak Kelinci, Balai Budi Daya dan Pembibitan Ternak Terpadu non Ruminansia Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Selasa (2/3/2021).

Ketua Komisi C Bambang Haryanto melihat potensi balai yang dimiliki oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai cara menopang PAD selain dari sektor pajak, BUMD dan pariwisata. Terlebih lagi, peningkatan pendapatan lewat hasil peternakan bisa menjadi cara stimulan bagi pemerintah dan masyarakat untuk optimalisasi aset daerah. Tentunya diiringi dengan kualitas dan tata manajemen yang baik agar produk yang dihasilkan juga menjadi unggulan.
“Potensi peningkatan pendapatan daerah melalui sektor peternakan bisa menjadi potensi unggul di samping pajak dan BUMD. Pandemi Covid-19 yang belum usai memukul mundur pendapatan di bidang pajak karena nilai perekonomian masyarakat yang cenderung turun. Maka bila potensi balai Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan terus digali dimungkinkan bisa menjadi trend pendapatan daerah, karena produk hasil ternak banyak macamnya. Dengan tata kelola dan manajemen yang baik, bukan tidak mungkin nantinya Jawa Tengah bisa mempunya sektor hasil peternakan unggulan,” tegas legislator PDIP.

Menambahkan, anggota Komisi C, Siti Rosidah melihat Taman Ternak Kelinci di Kabupaten Semarang sebagai sokongan pendapatan alternatif daerah dan model percontohan inovasi produk setiap daerah yang memiliki potensi tersebut. Dia berharap adanya peningkatan kualitas dan mutu juga pelayanan bisa menarik minat masyarakat untuk andil dalam pengembangannya.
“Potensi produk kelinci sangat menarik, selain mudah dalam proses perawatannya. Hasil dari kelinci pedaging juga banyak dilirik masyarakat selain karena rasanya yang enak namun juga bergizi. Kami ingin setiap balai taman ternak dapat meningkatkan kualitas dan tata manajemen yang baik sehingga bisa menarik minat masyarakat yang datang seperti belajar tata pengelolaan dari pembuatan kandang sampai pakannya,” harap politikus PKB itu.
Menanggapi dewan, sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Saeful Latif memaparkan bahwa setiap balai taman ternak mempunyai potensi yang sangat baik namun ada beberapa kekurangan yang terus diperbaiki. Terutama pakan yang masih sangat jauh dari kualitas unggulan dan sarana prasarana masih minim.
“Semua balai taman ternak dibawah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai potensi hasil unggulan, saat ini yang menjadi primadona adalah kelinci dan kalkun. Produk daging tersebut banyak diminati masyarakat karena kualitas rasa dan daging yang enak. Kekurangan yang menjadi pekerjaan rumah setiap balai adalah minimnya sarana prasarana, makanan ternak yang belum memadai sehingga seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap karena lokasi balai berdekatan rumah warga. Kami mengharap dukungan dari dewan untuk bisa meningkatkan peternakan bisa menjadi aset potensi pendapatan daerah,” harap dia.
Sekadar diketahui, jumlah kelinci yang dimiliki Balai Taman Ternak Kelinci Kabupaten Semarang ada 320 ekor dengan perincian kelinci dewasa 13 jantan, 85 betina, kelinci muda 3 jantan dan 21 muda.(tyo/priyanto)








