DIALOG RADIO : Anggota Komisi A St Sukirno bersama narasumber lain menjadi narasumber dalam dialog radio Prime Topic.(foto: setyo herlambang)
SEMARANG – Degradasi kecintaan Tanah Air terhadap bangsa sendiri banyak dialami kalangan generasi milenial. Kuatnya pengaruh arus media sosial begitu cepat, hingga bisa mengurangi rasa kebangsaan bernegara.

Doktrin intoleran dan pengaruh pemikiran transnasional membuat kekhawatiran akan adanya perpecahan. Untuk itu menjadi tanggung jawab bersama pemerintah bersama instansi terkait dengan masyarakat sebagai pencegahan.
Hal tersebut disampaikan anggota komisi A DPRD Jateng Stefanus Sukirno dalam dialog “Prime Topic: Revitalisasi Paham Kebangsaan Generasi Milenial” disiarkan melalui radio Trijaya FM di ruang pertemuan Noormans Hotel, Semarang, Kamis (28/04/2022). Turut hadir Kepala Badan Kesbangpol Jateng Haerudin dan akademisi Undip Turtiantoro.
“Media sosial dan teknologi daring bagai pisau bermata dua, selain bisa sebagai sarana pembelajaran akan tetapi bisa menjadi alat doktrin paham radikalis. Semestinya nilai-nilai wawasan kebangsaan seperti pemahaman pancasila bisa menjadi tameng utama, namun karena derasnya arus budaya asing malah membuat orang engga mempelajari lebih dalam, ” kata politikus PDI P.

Menambahkan Haerudin menilai masyarakat Jateng dari lewat survei menunjukkan rasa toleransi dan kebangsaan masi cukup tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Jika meningkatkan rasa nasionalisme yang tinggi maka pengenalan wawasan kebangsaan harus menjadi konsumsi harian.
“Kami melakukan survei bersama instansi dan akademisi mendapatkan hasil bahwa rasa nasionalis juga toleransi di Jateng sangat baik. Hal tersebut didorong para narapida eks teroris (eks napiter) banyak mulai mencintai Indonesia dan dorongan rasa nasionalis yang tinggi,” terang dia.

Turtiantoro mengatakan wawasan kebangsaan menyangkut pola pikir dan nilai-nilai rasa nasionalis harus tertanam dalam diri masing-masing masyarakat terutamanya generasi milenial.
“Jika membuat generasi milenial ingin meningkatkan rasa nasionalis tinggi maka kemas pengenalan wawasan kebangsaan menjadi menarik. Kemas secara kreatif agar bisa mengubah pola pikir bahwa Indonesia punya sejarah panjang dalam memperjuangkan negara, karena keberagaman pulalah membuat rasa toleransi yang tinggi dan harus dijaga bersama-sama,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.(tyo/priyanto)








