Pansus BPR BKK Soroti PAD yang Masih Rendah

Rapat pansus

BAHAS PAD. Pansus BPR BKK saat membahas persoalan masih rendahnya PAD dalam kinerja BPR BKK di Jateng, Jumat (19/6/2020). (foto setyo herlambang)

GEDUNG BERLIAN – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT BPR BKK kembali mendapatkan sorotan DPRD Provinsi Jateng. Hal itu terkait dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinilai belum sesuai target yang diharapkan.

Hal tersebut menjadi pembahasan Pansus DPRD Jateng bersama jajaran Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jateng dengan perwakilan PT BPR BKK, di Ruang Rapat Komisi B DPRD Provinsi Jateng, Jumat (19/6/2020). Ketua Pansus BPR BKK Sumanto meminta semua jajaran PT BPR BKK untuk lebih inovatif guna meningkatkan kinerjanya sehingga dapat memenuhi target yang diinginkan dan membantu masyarakat dalam pengembangan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM).

“Nantinya, PT BPR BKK punya banyak peran setelah dilakukan peleburan menjadi satu pintu. Dengan begitu, diharapkan akan sangat membantu permodalan UMKM sehingga mendorong laju ekonomi. Disisi lain, di beberapa wilayah yang belum bisa memberikan laporan PAD sesuai target. Kami harap untuk segera bisa ditingkatkan karena data yang akan digunakan dilaporkan ke pemerintah pusat. UMKM, selain memajukan produk lokal, tapi juga sangat punya peran besar dalam membantu peningkatan pendapatan daerah,” terang Sumanto.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengolahan Data & Pengembangan Pendapatan Bapenda Provinsi Jateng Edy Sulistyo memaparkan dari 35 BPR BKK yang ada di kabupaten/ kota belum bisa memberikan sumbangan PAD sesuai target. Faktor yang menjadi perhitungan adalah permodalan yang dinilai belum lancar. Disisi lain, efek pandemi Covid-19 juga mempengaruhi laju perkembangan UMKM.

“PAD memang sangat berpengaruh dalam pembangunan di Jateng karena BPR BKK punya peran besar dalam mendorong UMKM dengan bentuk pinjaman. Kami bersama BPR BKK terus berusaha semaksimal mungkin membantu masyarakat bergerak meningkatkan pendapatan daerah dalam bentuk bantuan suntikan dana. Pandemi Covid-19 juga mempengaruhi laju UMKM cukup tersendat karena permintaan barang yang menurun dan tidak diimbangi permodalan tidak berjalan sesuai biasanya,” terang Edy. (setyo/ariel)

Info Lainnya

  • Bahas Raperda Perlindungan Pekerja Informal di Grobogan

    GROBOGAN – Besarnya jumlah pekerja informal yang belum sepenuhnya tersentuh perlindungan jaminan sosial dan regulasi yang komprehensif mendorong Komisi E DPRD Provinsi Jateng mengunjungi Kabupaten Grobogan, baru-baru ini. Kunjungan itu sendiri dilakukan untuk menghimpun data, masukan, dan praktik baik daerah sebagai bahan penyusunan Raperda tentang Perlindungan Tenaga Kerja Informal.

  • Komisi D Dorong Perluasan PLTS untuk Ponpes

    SOAL PLTS. Komisi D DPRD Provinsi Jateng berdiskusi soal pemanfaatan PLTS di Ponpes Alqur’an Roudlotul Huffadh Almalikiyah, Kelurahan Banyuurip Kecamatan Pekalongan Selatan, Senin (13/7/2026). (foto dwi nugrahini) KAJEN – Komisi D DPRD Provinsi Jateng mendorong perluasan program Pembangkit Listrik Tenaga…

  • Potensial, Industri Garam di Pati

    PATI – Komisi C DPRD Provinsi Jateng memantau pengelolaan Pabrik Garam Industri milik BUMD, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), di Desa Raci Kecamatan Batangan Kabupaten Pati, Senin (13/7/2026). Dalam kegiatan itu, Komisi C menyoroti capaian kinerja keuangan PT SPJT yang menunjukkan peningkatan pendapatan menjadi sekitar Rp 48,1 miliar pada 2025.

  • Pilkades Serentak 2026, Komisi A Pantau Kesiapan Sukoharjo

    SUKOHARJO – Menghadapi Pilkades Serentak 2026, Komisi A DPRD Provinsi Jateng memonitor kesiapan beberapa kabupaten, salah satunya Sukoharjo. Saat berdiskusi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat & Desa (DPMD) Kabupaten Sukoharjo di Mal Pelayanan Publik (MPP), Senin (13/7/2026), Komisi A menyoroti aspek administrasi, tahapan pelaksanaan, hingga pembiayaannya.