MEDIA TRADISIONAL: Gunung Merbabu ‘Lahirkan’ Kesenian Rakyat

MENARI BERSAMA: Anggota DPRD Jateng Sukardiyono sedang menari bersama dalam kesenian Soreng.(foto: bintang alfirdauzy)

MUNGKID – Gunung Merbabu tak hanya memberikan sumber daya alamnya yang dapat dinikmati semua orang. Kesenian pun tumbuh subur di sekitar Gunung Merbabu. Bermacam bentuk kesenian terkelola baik oleh warga yang tinggal di kaki gunung tersebut.

Desa Wonolelo, salah satu contohnya. Kesenian Jatilan, Rampak Buto, Tiji Tibeh, serta Soreng, tumbuh dan berkembang di desa yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Kenapa kesenian itu tumbuh di lereng Gunung Merbabu? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi diskusi Dialog Parlemen dan Media Tradisional : “Nguri-uri Budaya Lereng Merbabu”, Rabu (23/3/2022). Digelar di kawasan objek wisata Negeri Kahyangan, menghadirkan narasumber anggota DPRD Jateng Sukardiyono dan pemerhati budaya Umar.

Umar menyampaikan, kesenian di lereng Merbabu tumbuh subur karena terbentuk dari kultur masyarakat yang agraris. Seperti di Desa Wonolelo, memiliki lebih dari 40 varian tarian. Masing-masing dusun memiliki satu tarian yang diturunkan secara turun temurun. Hal tersebut dikarenakan seni merupakan bagian dari hidup masyarakat Desa Wonolelo dimana pelaku seni dapat memainkan kesenian tersebut dengan hati.

Umar berharap kedepannya pelaku seni khususnya di Desa Wonolelo ini mendapatkan perhatian khusus dan dibuatkan wadah agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian tradisional yang ada di Desa Wonolelo.

“Di Desa Wonolelo ini terdapat 18 dusun.  Setiap dusun paling tidak memiliki satu tarian tradisional bahkan lebih, kalau ditotal jumlahnya ada 40 tari tradisional. Hal ini itu didukung masyarakat itu sendiri karena masyarakat menganggap bahwa seni itu bagian dari hidup mereka, jadi ketika mereka menampilkan kesenian mereka dapat menampilkannya dengan hati. Oleh karena itu saya berharap pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap pelaku seni di Desa Wonolelo ini dengan paling tidak membuatkan sanggar atau wadah agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian tradisional yang ada di Desa Wonolelo” kata pemerhati kesenian dan kebudayaan Kabupaten Magelang itu.

Salah satu pelaku seni, Barjo menambahkan bahwa pelaku seni masih membutuhkan bantuan agar dapat membenahi alat musik serta pakaian yang mereka gunakan untuk tampil karna sudah usang.

“Gamelan kami sudah usang suara yang dikeluarkan juga tidak semerdu kalau masih baru, kostum yang kami gunakan juga sudah lama bahkan sudah hamper 10 tahun, semoga kedepannya dapat diperhatikan agar menambah semangat kami dalam melestarikan kesenian ini” ujar Barjo.

Menanggapinya Anggota Komisi C Sukardiyono menyatakan kedepannya DPRD Provinsi Jateng akan lebih memperhatikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Desa Wonolelo ini dengan membentuk Pansus dimana akan menyusun anggaran agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian tradisional yang ada di Desa Wonolelo Kabupaten Magelang.

“Terimakasih atas aspirasi yang disampaikan, kedepannya kami akan lebih memperhatikan pelaku seni di Desa Wonolelo ini dengan membentuk pansus dimana akan menyusunkan anggaran agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian kedepannya” ujar politikus Gerindra itu.

Menutup dialog, Sukardiyono berpesan kepada masyarakat Desa Wonolelo untuk selalu semangat dalam mengembangkan ekonomi, melestarikan kebudayaan, dan menjaga keindahan alam yang ada di Desa Wonolelo

“Untuk masyarakat Desa Wonolelo saya berharap agar untuk tetap semangat dalam segala hal, semangat dalam mengembangkan ekonomi, semangat dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan, serta semangat dalam menjaga dan melestarikan alam, karena dengan kita berbuat baik dengan alam maka alam akan membalas hal-hal baik juga kepada kita” tutup Sukardiyono.

Kegiatan Dialog Parlemen itu disambung dengan pentas tari tradisional Jathilan Rampak Buto yang kemudian dilanjutkan Tari Tiji Tibeh dan Tari Soreng. Pada kesempatan itu Sukardiyono juga menyempatkan untuk bergabung menari bersama dengan pelaku seni di tengah-tengah penampilan.(anif/priyanto)