TERIMA CENDERA MATA. Jajaran Komisi B menerima cendera mata dari BKIPM Yogyakarta, Senin (27/1/2020).(Foto: Ervan Ramayudha)
YOGYAKARTA – Komisi B DPRD Jateng berkunjung ke Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMKHP) di Yogyakarta, Senin (27/1/2020).
Rombongan Komisi B DPRD Jateng yang didampingi Kepala BKIPM Semarang R Gatot Perdana diterima langsung Kepala Stasiun BKIPM Yogyakarta Hafit Rahman beserta jajarannya di ruang rapat kantor BKIPM. Dalam pertemuan tersebut Wakil Ketua Komisi B Sri Marnyuni mengatakan, kunjungan kerja kali ini guna mencari data dan informasi tentang potensi produk ekspor kelautan dan perikanan terutama dari pesisir selatan.

Dalam pertemuan itu, anggota Komisi B Imam Teguh Purnomo secara panjang lebar mengemukakan, banyak dilema yang dihadapi nelayan di pesisir selatan mulai dari Cilacap, Purworejo, Kebumen, Wonogiri sampai Yogyakarta. Padahal secara potensi perikanan dan kelautan sama-sama besarnya dengan pesisir utara, namun pengembangannya kerap termarjinalkan.
“Kami pernah ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dipaparkan potensi di pesisir selatan sangat besar, sayang pengembagannya kurang belum bisa menghadapi cuaca dengan gelombang besar.
Bantuan apa saja yang dapat di berikan kepada para nelayan – nelayan kita khususnya yang berada di wilayah selatan ini agar mereka bisa melaut setiap hari baik bantuan dari Kementerian Kelautan maupun BKIPM wilayah Yogyakarta.

Berkaitan untuk ikan tawar, apakah dari BKIPM Wilayaha Yogyakarta maupun BKIPM Semarang mempunyai program-program yang nanti bisa kita sampaikan kepada masyarakat yang tidak memiliki wilayah laut, seperti Wonosobo, Magelang dan sekitarnya.
Menjawab hal tersebut, Kepala Stasiun BKIPM Wilayah Yogyakarta Hafit Rahman menjelaskan, tugas Stasiun BKIPM Yogyakarta adalah melaksanakan pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina (HPIK). Selain itu pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta penerapan sistem manajemen mutu baik di pintu masuk maupun pintu keluar seperti (bandara, pelabuhan laut, kantor pos) dan sebagian besar wilayah administratif Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagian komoditas perikanan banyak yang masuk melalui luar DIY, seperti Banjarnegara, Cilacap, Jepara, Klaten, Magelang, Purwokerto, Purworejo, Salatiga, Semarang, Sragen, Sukoharjo, Temanggung, dan Wonosobo.
Untuk peluang dan tantangan kedepan sendiri, saat ini dengan adanya Pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport, Bandara sebelumnya (Adisucipto) telah mengalami lonjakan penumpang (5 x lipat daya tampung ideal), Segera diresmikan dan beroperasi minimal pada April 2019, Peningkatan lalulintas komoditas perikanan 25% per tahun.(ervan/priyanto)






