Turun Sedikit, Purworejo dan Magelang Terus Upayakan Penurunan Jumlah Kemiskinan

WhatsApp Image 2025 02 04 at 21.35.09

SOAL MISKIN. Komisi E bertemu dengan Pemkab Purworejo dalam kunjungan kerja guna rangkaian upaya pengawasan percepatan penanggulangan kemiskinan.(foto soni dinata)

PURWOREJO – Kabupaten Purworejo dan Magelang menjadi daerah tujuan kunjungan kerja Komisi E DPRD Provinsi Jateng guna rangkaian upaya pengawasan percepatan penanggulangan kemiskinan, Selasa (4/2/2025). Ketua Komisi E Messy Widiastuti menyatakan kehadiran secara terpisah di kedua kantor kabupaten tersebut juga turut untuk menguatkan draf materi Rancangan Perda tentang Penanggulangan Kemiskinan Daerah Provinsi Jawa Tengah.

Saat di Pemkab Purworejo, RA. Kurniawan selaku Pj. Sekda Kabupaten Purworejo menyebutkan angka kemiskinan turun tidak terlalu signifikan. Hanya saja yang patut dijadikan perhatian pemerintah, tidak saja secara jumlah dan persentase kasus kemiskinan, namun juga masalah lain dari terjadinya kemiskinan.  

“Hal lain yang menjadi concern survei BPS yakni Perkembangan Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Keparahan Kemiskinan, persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Ada juga dimensi lain yang perlu diperhatikan yaitu tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” ungkap Kurniawan.

Sementara, kasus kemiskinan di Kabupaten Magelang disebabkan masyarakatnya tidak mau lepas dari kondisi penerimaan bantuan baik PKH, bansos dan bantuan lainnya, terlebih bantuan BOS. Kondisi tersebut menjadikan penurunan angka kemiskinan sangat kecil sekali.

“Meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh dinas terkait salah satunya melaksanaan pelatihan keterampilan kerja, tetap saja ada mindset dari masyarakat lebih nyaman sebagai penerima bantuan,” ucap Nanda Cahyadi selaku Asisten Pemerintahan & Kesra Setda Kabupaten Magelang

Menanggapi hal itu, Sekretaris Komisi E Zaenudin mengatakan berbagai kendala di lapangan yang mayoritas merupakan data dari pusat maupun daerah. Harapannya, bisa dijadikan kerangka menerbitkan Raperda tentang Penanggulangan Kemiskinan.

“Setelah data diperbaiki, maka selanjutnya dilakukan social protection dengan program PKH menjadi solusi utama dalam penanganan kemiskinan. Selanjutnya, adanya upaya graduasi penerima manfaat dan pemberdayaan perlu diperkuat. Sehingga, perlu adanya koordinasi dan sinkronisasi yang baik dengan pemerintah daerah,” ucap Zaenudin.

Bagi Messy, pihaknya tetap memberikan apresiasi kepada OPD di kedua kabupaten tersebut yang tetap bersemangat dalam menanggulangi kemiskinan warganya. “Semangat yang luar biasa ini harus kita buktikan bahwa Jawa Tengah bisa keluar sari zona kemiskinan yang masih tertinggal dari Jabar dan Jatim, dan saya kira semangat teman-teman OPD Provinsi Jateng ini sangat luar biasa dengan dibuktikan lengkap dari Bappeda, Dinsos, Disnaker, Pendidikan, Biro Kesra, Dinkes, dan hampir semua mitra kerja Komisi E mengikuti kunjungan ini,” pungkasnya. (soni/priyanto)

Berita Terkait

  • Produksi Bata Ringan Dorong Investasi di Jateng

    PERTEMUAN : Komisi B bertemu dengan dengan manajemen PT Superior Prima selaku produsen bata ringan di Sragen.(foto: setyo herlambang) SRAGEN – Produksi bata ringan mendapat angin segar dengan tingginya permintaan masyarakat. Salah satu pabrik produsen bata ringan, PT Superior Prima…

  • SEMINAR: BUMD Berperan untuk Meningkatkan PAD

    SURAKARTA – Dalam penyusunan Raperda tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada BUMD, Komisi C DPRD Provinsi Jateng menggelar acara ‘Seminar: Menggagas Raperda tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada BUMD di Hotel Sunan, Kota Surakarta, Senin (20/5/2024). Saat berdiskusi, salah satu narasumber Akademisi Undip Semarang Profesor Nugroho menjelaskan soal pentingnya raperda tersebut.

  • DIALOG PARLEMEN: Dorong Pengembangan UKM/UMKM

    SURAKARTA – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Ferry Wawan Cahyono menyatakan pada pemulihan perekonomian daerah sekarang ini pemerintah provinsi perlu memberi prioritas pada pengembangan serta fasilitasi UMKM dan IKM. Hal Tersebut disampaikannya dalam “Dialog Parlemen” di TATV Surakarta. Turut menjadi narasumber lain yaitu akademisi sekaligus pengamat ekonomi UNS Surakarta, Dr Mulyanto.