Tanah Grumusol, Blora Butuh Inovasi Sektor Pertanian

20240520 203803 Gallery

FOTO BERSAMA : Komisi B berfoto bersama dengan jajaran Pemkab Blora saat kunjungan kerja.(foto: ganang faisol)

BLORA – Dilalui dua sungai besar yakni Bengawan Solo dan Lusi, pertanian di Blora terbilang tumbuh subur. Terlebih tanah di daerah tersebut adalah jenis grumusol, maka pertanian yang cocok adalah sawah tadah hujan serta perkebunan.

Komisi B DPRD Jateng pada Senin (20/5/2024), ingin mengetahui langsung konsep pertanian di daerah yang dikeliling kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara dan Selatan tersebut. Diungkapkan Sarno selaku Ketua Komisi B, dengan memiliki jenis tanah grumusol sebenarnya tingkat produktivitas bisa terbilang rendah dan tinggi. Pemanfaatannya untuk tanah pertanian dan perkebunan.

“Hampir seluruh tanah di Blora warnanya kelabu sampai hitam. Ini jenis grumusol. Meski Blora masuk daerah pertanian, namun daerah ini rentan kekeringan. Maka dari itu kami ingin mendapatkan informasi bagaimana pengelolaan konsep pertanian di daerah tersebut,” ucapnya.

Kunjungan Komisi B di Blora, tepatnya di Desa Ngloram di Kecamatan Cepu, tak hanya untuk mengetahui masalah pertanian namun banyak hal yang ingin didapatkan untuk menguatkan isi draf Raperda Sistem Pertanian. Termasuk hal infrastruktur penunjang pertanian.

Seperti dilontarkan Wakil Ketua Komisi B Sri Maryuni, Blora ini sebagian besar adalah sawah tadah hujan. Pada saat musim panas sering terjadi kekeringan maka dari itu untuk mengatasi kekeringan di sini mengunakan pompanisasi air untuk mengaliri yang berasal dari sungai dan sumur bor dan sudah terlaksana dengan baik.

Ia pun menyoroti rencana pengembangan Bandara Ngloram. Dengan akan dikembangkannya bandar aitu tentu akan mengurangi areal persawahan di daerah itu. Karena itu Pemkab Blora perlu memikirkan upaya penyelamatan lahan persawahan.

“Infrastruktur memang dibutuhkan. Pertanian pun membutuhkan infrastruktur supaya pendistribusiannya tidak terganggu. Namun pemerintah perlu mengonsep pola pembangunan yang tidak hanya menonjolkan infrastruktur namun tidak mengabaikannya,” kata dia.(ganang/priyanto)

Info Lainnya

  • DPRD Jateng Dukung Program ‘Revola Jateng Optimis’

    BANJARNEGARA – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Setya Ari Nugroho mendukung Program Revolusi Lahan atau ‘Revola Jateng Optimis,’ yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurut dia program yang bertujuan menghidupkan sejumlah lahan tidur yang sudah bertahun-tahun menjadi kembali produktif merupakan langkah tepat guna mendorong pertumbuhan ekonomi di masyarakat

  • Dipantau, Revitalisasi Jembatan Dengkeng Klaten

    KLATEN – Perbaikan Jembatan Dengkeng di Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten penting untuk menjaga konektivitas dan kelancaran mobilitas masyarakat di jalur Karangwuni hingga batas Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Infrastruktur yang menjadi penghubung antarwilayah tersebut kini mulai direvitalisasi dengan pembangunan jembatan baru

  • Komisi E Pantau Kualitas Belajar Mengajar di SMA 1 Kedungwuni

    KAJEN – Komisi E DPRD Provinsi Jateng menyoroti kualitas proses belajar mengajar sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman bagi peserta didik. Hal itu menjadi fokus Komisi E ke SMA Negeri 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Senin (10/8/2026), untuk menggali masukan, data, dan informasi pendidikan di wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII

  • Penyelenggaraan Jalan Provinsi Jateng Perlu Regulasi Lebih Tegas

    SUKOHARJO – Tingginya mobilitas masyarakat, meningkatnya beban angkutan logistik, dan kebutuhan menjaga kualitas ribuan kilometer jalan provinsi menjadi alasan Komisi D DPRD Provinsi Jateng mendorong lahirnya regulasi baru tentang penyelenggaraan jalan. Aturan itu dinilai penting untuk memastikan pengelolaan jalan lebih terarah, berkelanjutan, sekaligus memperjelas kewenangan antarinstansi